“Mbak, jangan dulu bicara investasi. Saya lagi alergi dengan kata itu,” ujar Bambang, 59 tahun, guru SD asal Indramayu, Jabar di Jakarta, awal Maret 2017. Uang tabungannya senilai Rp 150 juta kandas di PT Cakrabuana Sejahtera Indonesia (CSI), perusahaan yang menawarkan investasi di emas batangan. Hampir semua rekannya seprofesi tertipu oleh investasi bodong. Hati mereka masih perih oleh rasa kecewa yang berbaur dengan amarah.

Seorang ibu muda yang menawarkan produk investasi akhirnya mengurungkan niatnya dan balik bertanya soal pengalaman sang guru dan rekan-rekannya dalam berinvestasi. Dalam benaknya, si ibu muda tak habis pikir, mengapa niat baiknya untuk menjelaskan produk investasi baru dan cara berinvestasi yang benar ditampik. Ia heran, pada era teknologi informasi seperti ini masih ada guru–yang di mata masyarakat sebagai kalangan terpelajar–tidak suka mendengar cerita soal investasi.

Bambang pun menuturkan nasib rekannya, Anung, yang kehilangan uang hingga Rp 300 juta. Ketika mendapat uang pensiun, datang tawaran investasi mengggiurkan dari seorang rekannya. Sambil menunjukkan dana masuk di buku tabungannya, rekannya menjelaskan investasi di CSI yang memberikan imbal hasil 5 persen sebulan atau 60 persen setahun. Rekannya sudah lima bulan berturut-turut menerima bunga Rp 5 juta sebulan dari investasi senilai Rp 100 juta.

Tanpa berpikir panjang lagi, Anung langsung menginvestasikan dananya. Ia tak sabar lagi untuk menerima bunga Rp 30 juta sebulan. Kapan lagi hidup enak? Begitu kira-kira pikirnya. Selama ini, ia hidup dengan gaji Rp 9 juta per bulan. Janji untuk menerima bunga 10 persen sebulan tentu sangat menggoda. Ia ingin segera memasuki fase hidup baru.

Tetapi, apa lacur. Belum sempat menikmati bunga pinjaman, CSI dikabarkan bangkrut. Anung pun terkapar terkena stroke. Untung, nyawanya tertolong. Namun, dananya bablas angine. Sebagian besar nasabah CSI di kabupatennya adalah PNS, baik guru maupun pegawai daerah.

“Mereka mengincar PNS dan guru karena kalangan ini bisa meminjam uang dari bank. Cukup menggadaikan ijazah, pinjaman mengucur,” ujar Bambang.

Berkantor pusat di Cirebon, CSI menyasar para guru dan PNS se-Jabar. Korban paling banyak adalah masyarakat Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan Subang. Lewat testimoni para nasabah generasi pertama hingga ketiga, perusahaan dengan izin usaha sebagai perdagangan umum yang beroperasi sejak 2011 ini menjanjikan keuntungan bersih kepada nasabah penyimpan sebesar 5 persen sebulan. Namun, setelah lima tahun, perusahaan ini oleng dan tak mampu melunasi kewajibannya kepada nasabah yang mencapai Rp 3 triliun lebih.

Di Jabotabek, wilayah yang menjadi jantung finansial Indonesia, penipuan berkedok investasi juga kerap terjadi. Saat ini, Polri sedang mengusut kasus penipuan yang dilakukan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa. Mulai beroperasi tahun 2015, koperasi yang menjanjikan keuntungan bersih 10 persen sebulan ini langsung merebut hati banyak nasabah.

Dalam sekejap, Pandawa mampu menghimpun dana publik hingga Rp 3 triliun dari sekitar 38.000 nasabah. Sebagian besar nasabah berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Sebagian lain dari berbagai wilayah, termasuk NTT. Banyak guru dan pensiunan yang menjadi korban. Uang pensiun yang mesti dikelola untuk hari tua menguap dalam waktu singkat di tangan koperasi yang didirikan oleh Salman Nuryanto itu.

Salman Nuryanto (kiri).

Kasus penipuan oleh KSP Pandawa mulai terkuak akhir tahun 2016. Merespons laporan para nasabah, Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan seluruh kegiatan penghimpunan dana yang dilakukan Pandawa Group karena berpotensi merugikan masyarakat dan diduga melanggar UU tentang Perbankan. Penghimpunan dana masyarakat hanya boleh dilakukan oleh perbankan dan lembaga keuangan lainnya yang mendapat izin operasi dari OJK. Sedang KSP Pandawa adalah koperasi yang hanya boleh menghimpun dana dari anggota.

Sejak 2013, penipuan berkedok investasi yang dicatat OJK mencapai 80 kasus. Umumnya, modus penipuan berkedok investasi menggunakan skema ponzi. Nasabah pertama mendapatkan imbal hasil yang diambil dari dananya sendiri. Nasabah kedua mendapatkan bunga dari nasabah ketiga. Nasabah ketiga memperoleh bunga dari nasabah keempat dan seterusnya. Pembayaran bunga akan lancar selama ada nasabah baru dan tidak ada penarikan dana dalam jumlah besar oleh nasabah.

Ketika jumlah nasabah baru menurun dan ada penarikan dana dalam jumlah besar dari nasabah, perusahaan mengalami mismatch. Kewajiban yang harus dibayarkan tidak seimbang dengan dana yang tersedia. Mulai ada nasabah yang tidak mendapatkan pembayaran bunga 5 persen. Dalam hitungan bulan, jumlah mereka makin banyak. Nasabah yang tidak mendapatkan bunga panik dan berusaha menarik dananya. Gelombang penarikan dana mempercepat kehancuran. Biasanya, penipuan berkedok investasi dengan skema ponzi ini hanya sukses dalam waktu lima tahun.

Kehancuran perusahaan tipu-tipu berkedok investasi hanya soal waktu karena dana yang dipotong untuk para pemimpin grup atau koordinator yang bertugas merasuki nasabah cukup besar yang langsung dibayarkan di depan. Koordinator yang mendapatkan dana investasi Rp 100 juta langsung mendapatkan Rp 20-30 juta. Dana yang diinvestasikan tinggal 70-80 persen. Tidak heran jika para pemimpin grup menjadi kaya dalam sekejap.

Skema ponzi adalah bentuk tipu-tipu tertua dalam investasi. Dalam praktiknya, skema ponzi bervariasi sesuai kreativitas pendiri dan eksekutif perusahaan. Pada 2008, saat AS berusaha bangkit dari krisis finansial, mencuat kasus penipuan berkedok investasi yang mengguncangkan dunia. Bernard Lawrence Madoff, mantan chairman Nasdaq dan pendiri Bernard L Madoff Investment Securities LLC, terbukti melakukan penipuan lewat skema ponzi. Dana nasabah yang kandas di tangan perusahaan investasi Madoff mencapai US$ 50 miliar atau sekitar Rp 550 triliun. Ia divonis penjara 150 tahun dan denda US$ 170 miliar. Saat itu, usia Madoff 71.

Literasi Rendah
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan masyarakat mudah tertipu oleh investasi bodong. Pertama, literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. Survei yang dilakukan OJK tahun 2016 menunjukkan, literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 29,7 persen. Yang dimaksudkan dengan literasi adalah pemahaman masyarakat tentang keuangan. Masyarakat Jakarta yang dianggap lebih terdidik hanya memiliki literasi keuangan 40 persen. Semakin jauh dari Jakarta, literasi keuangan masyarakat semakin rendah.

Jauh lebih rendah lagi pemahaman masyarakat tentang investasi di pasar modal. Literasi pasar modal hanya 4,4 persen. Artinya, dari 100 orang Indonesia yang Anda temui, hanya empat orang yang paham soal investasi di pasar modal. Industri perbankan yang sudah sangat populer pun tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya 28,9 persen. Dalam situasi seperti ini, masyarakat dengan mudah ditipu oleh mereka yang cerdas dan jahat.

Pemahaman masyarakat yang rendah tentang industri keuangan bisa dilihat dari ketidakmampuan mereka dalam membedakan koperasi dan industri keuangan lainnya. Nasabah KSP Pandawa, misalnya, tidak paham bahwa koperasi tidak boleh menghimpun dana masyarakat yang bukan anggota koperasi. KSP Pandawa adalah koperasi yang mendapat izin operasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Yang boleh menghimpun dana masyarakat hanya bank, perusahaan sekuritas, manajer investasi, atau perusahaan asuransi yang mendapat izin operasi dari OJK. Sebagian besar nasabah yang menyetor dana ke KSP Pandawa adalah masyarakat yang bukan anggota koperasi. Masyarakat tidak paham bahwa koperasi tidak boleh menghimpun dana dari masyarakat yang bukan anggotanya.

Memercayai janji keuntungan bersih sebuah investasi 5-10 persen sebulan mencerminkan minimnya pengetahuan nasabah tentang investasi, baik investasi langsung maupun investasi portofolio. Perusahaan manakah yang mampu memberikan keuntungan 60-120 persen setahun? Di manakah Pandawa menanamkan dana masyarakat? Dengan menjanjikan keuntungan 120 persen setahun, Pandawa diandaikan meminjamkan dananya di perusahaan yang mampu mencetak laba 150 persen setahun. Bisnis yang normal umumnya memberikan keuntungan sekitar 15-30 persen setahun.

Para pengurus KSP Pandawa menuturkan, mereka menanamkan dana pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama perusahaan mikro dengan nilai pinjaman maksimal Rp 10 juta. Tetapi, nasabah tidak pernah mencari infomasi, usaha manakah yang mampu mencetak laba lebih dari 20 persen sebulan secara konsisten. Jika banyak usaha mikro yang mampu bertumbuh dengan bunga pinjaman sebesar itu, Indonesia sudah maju dan sejahtera. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, bank terbesar di Indonesia dengan jangkauan hingga ke desa, pasti sudah memberikan pinjaman kepada mereka.

Kedua, para nasabah kehilangan akal sehat. Untuk bisa terhindar dari penipuan berkedok investasi, nasabah cukup menggunakan akal sehat. Dengan janji keuntungan yang begitu besar, mestinya nasabah bertanya soal legalitas perusahaan, mencari tahu rekam jejak perusaahan, dan menilai kompetensi para pengelola.

Nasabah yang memiliki akal sehat mestinya bisa membandingkan perusahaan yang sedang merayunya dengan perusahaan sejenis di bidang investasi yang sudah beroperasi secara legal. Nasabah yang menggunakan akal sehat akan bertanya, mungkinkah nasabah diberikan bunga 60-120 persen setahun? Kalau nasabah saja sudah mendapatkan bunga sebesar itu, berapa bunga pinjaman yang dipatok perusahaan untuk debiturnya?

Ketiga, faktor keserakahan membuat nasabah menutup mata terhadap informasi lain. Legalitas perusahaan pun tidak diperhatikan. Dalam merespons berbagai tawaran investasi, pertanyaan pertama adalah legalitas perusahaan dan kompetensi para pengelola. Akibat keserakahan, nasabah kehilangan akal sehat dan memercayai begitu saja janji imbal hasil yang amat fantastis.

Keempat, minimnya sosialisasi dan edukasi tentang industri keuangan dan investasi. Indonesia saat ini memiliki cukup banyak alternatif investasi. Bagi mereka yang tidak mampu investasi langsung dengan membuka usaha, ada perusahaan investasi yang siap membantu. Ada perusahaan sekuritas dan manajer investasi yang siap mengelola dana nasabah. Perusahaan ini legal, mendapat izin operasi dari OJK dan para pengelolanya memiliki sertifikat sebagai profesional di bidang keuangan.

Namun, faktanya, nasabah pasar modal belum sampai satu juta. Sekitar 500.000 adalah nasabah reksa dana dan 480.000 adalah nasabah saham yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Nasabah yang belum memahami investasi dan memiliki dana terbatas bisa membeli unit penyertaan reksa dana. Dengan dana Rp 1 juta, nasabah bisa mulai membeli produk reksa dana dan menambahkan setiap bulan, minimal Rp 50.000. Dengan teknologi informasi dan e-banking, penambahan atau top up dana dalam jumlah kecil untuk investasi reksa dana tidak masalah.

Reksa dana memiliki keunggulan dibanding investasi di saham dan obligasi. Pemodal tak perlu menganalis satu demi satu saham yang hendak dibeli karena manajer investasi sudah melakukannya. Dengan dana terbatas, pemodal reksa dana bisa langsung memiliki sejumlah saham prospektif sekaligus. Bagi yang tidak berani mengambil risiko, ada reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana campuran. Setiap saat, pemodal bisa melihat posisi nilai aktiva bersih (NAB) yang menjadi portofolionya. Reksa dana cocok untuk pemodal tajir yang tidak memiliki waktu.

Sejak 2009, NAB reksa dana naik konsisten rata-rata 25 persen setahun dan pada Januari 2017 mencapai Rp 352,7 triliun atau US$ 62 miliar. Tetapi, dibanding Malaysia, negeri berpenduduk 31 juta, NAB reksa dana Indonesia tidak ada apa-apanya. NAB reksa dana di negeri jiran itu sudah menembus US$ 155 miliar. Ini karena pemodal reksa dana di sana sudah mencapai 18,5 juta. Sedang Indonesia yang berpenduduk 260 juta, jumlah investor reksa dana hanya 500.000. Wajar jika orang Malaysia agak sombong berhadapan dengan orang Indonesia karena mereka sudah lebih melek investasi di samping menjadi pengguna PRT asal Indonesia.

Penipuan dengan kedok investasi adalah kejahatan yang tidak boleh dibiarkan karena merupakan pemiskinan sistematis. Uang hasil keringat, darah, dan air mata yang dikumpulkan bertahun-tahun ludes dalam sekejap. Mereka yang sudah memiliki kekuatan ekonomi mendadak menjadi miskin. Jika pemerintah serius dengan program anti-ketimpangan, penipuan dengan kedok investasi harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Kini saatnya pemerintah, OJK, bursa efek, perusahaan sekuritas, manajer investasi, lembaga pendidikan, dan media massa bahu membahu memberikan edukasi tentang investasi. Bahwa pertimbangan utama dalam investasi adalah keamanan dana. Investasi hanya aman jika perusahaan yang dipercayakan untuk mengelola dana memiliki legalitas, para pengelola adalah profesional bersertikat dari OJK, dan sudah memiliki rekam jejak yang baik. Pertimbangan kedua adalah likuiditas. Dana yang ditanamkan harus bisa ditarik kembali kapan saja. Memasukkan dana gampang, menarik kembali dana juga harus gampang.

Keuntungan atau imbal hasil adalah pertimbangan terakhir. Untuk apa perusahaan memberikan keuntungan besar, tetapi tidak aman dan tidak likuid? Untuk apa nasabah diberikan angin surga keuntungan besar, tetapi tidak langgeng bahkan hanya sekejap?

Put not your trust in money, but put your money in trust,” kata Oliver Wendell Holmes, ahli keuangan dunia. “Jangan menitipkan kepercayaan Anda pada mereka yang omong besar soal menggandakan uang, tetapi titiplah uang Anda pada orang yang dipercaya.” 

Primus Dorimulu/AB

BeritaSatu.com



Source link