[ad_1]

Volume perdagangan Indonesia-Rusia meningkat sekitar 12 persen dalam empat bulan pertama 2016, mencapai 770 juta dolar AS, demikian disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indoensia Mikhail Galuzin pada TASS, Selasa (28/6) lalu.


“Dalam empat tahun pertama tahun ini, volume perdagangan Rusia-Indonesia meningkat sekitar 11-12 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni mencapai 770 juta dolar AS,” terang Galuzin.


Menurut Galuzin, pertumbuhan tersebut didukung oleh impor dari Indonesia ke Rusia, sementara ekspor tertinggal di belakang.


Ekspansi perdagangan antara kedua negara merupakan salah satu isu utama yang didiskusikan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Indonesia Joko Widodo dalam pertemuan di Sochi pada 18 Mei lalu.


Hubungan antara kedua negara bergerak ke arah yang positif menyusul pertemuan Putin dan Jokowi di sela-sela KTT ASEAN-Rusia, terang sang diplomat. “Negara kita memiliki hubungan yang bersahabat, dengan ikatan perdagangan dan ekonomi sebagai elemen penting,” terangnya, menambahkan bahwa Rusia berharap bisa menjadi mitra ekonomi yang menjanjikan dan menarik bagi Indonesia, karena negara tersebut memiliki teknologi dan perangkat canggih, serta memproduksi sumber daya yang dibutuhkan Indonesia seperti minyak mentah. 


Indonesia juga merupakan ‘pemasok barang yang sangat penting’ bagi Rusia, lanjut Galuzin, menuturkan bahwa Rusia mungkin memainkan peran penting dalam implementasi rencana ambisius Indonesia yang ingin memodernisasi infrastruktur negara secara luas, khususnya di bidang transportasi udara dan laut. Menurut Galuzin, kedua negara merupakan mitra yang sangat menjanjikan di bidang ini.


Sebuah komisi antarpemerintah yang bergerak di bidang kerja sama perdagangan, ekonomi, dan teknis telah aktif saat ini, dan pertemuan selanjutnya diperkirakan akan digelar di Jakarta pada musim gugur mendatang.


Presiden Putin menyampaikan, proyek gabungan Russian Railways telah diluncurkan di Indonesia. Mereka akan membangun jalur kereta sepanjang 190 kilometer di Pulau Kalimantan untuk mempermudah transportasi batu-bara, nikel, mangan dioksida, serta sumber daya lainnya. Jumlah investasi kilang minyak di Indonesia – dengna partisipasi Rosneft – bisa mencapai 13 miliar dolar AS. Selain itu, ada pula rencana pembangunan pembangkit energi termal berkapasitas 1,8 gigawatt dengan bantuan perusahaan Rusia Inter RAO


Pertama kali dipublikasikan oleh TASS. 


Top Secret: Apa yang Hendak Moskow dan Jakarta Sembunyikan dari CIA?


 

[ad_2]

Source link