PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,01 persen pada semester I-2017, berdampak positif di pasar modal. Jumlah investor bertambah dan total transaksi di bursa saham menunjukkan peningkatan.

Direktur Pengembangan Bisnis BEI Nicky Hogan mengatakan terdapat dua alasan utama yang menyebabkan pasar tidak merespons negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya sebesar 5,01 persen. Pertama, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen merupakan angka yang cukup tinggi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan

Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.

Alamat email Anda telah terdaftar

Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA

Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi

Silahkan mengisi alamat email

Silahkan mengisi alamat email dengan benar

Masukkan kode pengaman dengan benar

Silahkan mengisi captcha

“Dibandingkan dengan negara lain di dunia, pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen itu tinggi,” ujar Nicky saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (11/8). (Baca: Ekonomi Stagnan, Jokowi: Alhamdulilah di Atas 5%, Tiga Besar di G20)

Kedua, dia melihat telah terjadi perubahan pola masyarakat yang tadinya gemar konsumsi menjadi berinvestasi. Penurunan daya beli yang sering digaungkan beberapa pihak, ternyata tidak terbukti di pasar modal. Jumlah investor dan transaksi pasar modal mengalami peningkatan.

BEI mencatat ada peningkatan jumlah investor sebesar 20 persen pada semester I-2017 ini. Pada semester I tahun lalu, jumlah investor yang bertransaksi di pasar modal tercatat rata-rata sebanyak 78 ribu per bulan. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, jumlahnya bertambah rata-rata di atas 90 ribu per bulan. 

(Baca: Nasabah Ragu Ekonomi Baik, Tabungan Naik Rp 60 Triliun dalam Sebulan)

Penambahan jumlah investor ini diikuti dengan peningkatan jumlah transaksi, walaupun tidak signifikan. Tercatat transaksi harian pada semester I-2017 sebesar Rp 7,5 triliun, naik tipis dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 7,4 triliun. Hal ini menjadi dasar asumsi Nicky bahwa konsumsi masyarakat turun bukan karena daya beli rendah, tetapi menahan konsumsi untuk berinvestasi.

“Jadi, indikator yang digunakan banyak pihak yang menilai penurunan daya beli itu rasanya harus menganalisa lebih jauh dari faktor-faktor di luar itu semua,” ujarnya. 

Sementara itu, Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta periode 2017-2022 Sandiaga Uno menjelaskan munculnya polemik mengenai penurunan daya beli ini karena tidak sinkronnya data makro dengan sektor informal. Kurang bergairahnya usaha di sektor barang konsumsi atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG), karena sektor informal yang kesulitan mengembangkan lahan usahanya.

“Omzet mereka menurun, sehingga akhirnya pembelian dari sektor consumer dan konsumsi itu menurun,” ujarnya. (Baca: BI: Masyarakat Kelas Menengah Pilih Menabung Ketimbang Belanja)

Meski begitu, daya beli masyarakat justru tidak terlihat menurun di sektor properti. Menurut Sandiaga, sektor properti seperti pembangunan perumahan dengan harga terjangkau ini masih banyak peminatnya. Justru yang mengalami perlambatan signifikan adalah perumahan menengah ke atas.



Source link