Bisnis.com, JAKARTA— Samuel Sekuritas Indonesia memprediksi nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, Senin (1/6/2015) akan merespons data manufaktur China dan inflasi Mei dalam negeri yang dirilis BPS siang ini.

“Hari ini fokus akan tertuju pada data manufaktur China. Selain itu, dari domestik, angka manufaktur, serta inflasi adalah yang paling diperhatikan. Keduanya masih diperkirakan memburuk,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta dalam risetnya yang diterima hari ini, Senin (1/6/2015).

Dikemukakan inflasi Mei diperkirakan naik ke kisaran 7-7,1% YoY, lebih dikarenakan naiknya harga barang yang diatur oleh pemerintah seperti BBM, gas elpiji serta tarif listrik.

Rangga mengatakan rupiah masih akan diuntungkan oleh kembali buruknya angka PDB Amerika Serikat, akan tetapi angka inflasi yang naik melebihi ekspektasi serta angka manufaktur yang turun tajam bisa menghapus keuntungan tersebut.

“Sehingga justru membawa tekanan pelemahan kembali hari ini,” kata Rangga.

Pertumbuhan ekonomi AS kuartal I/2015, ujarnya, direvisi turun. Walaupun U. of Mich. Sentiment berhasil naik cukup signifikan.

Sementara itu, tambahnya, indeks dolar masih mempertahankan tren penguatannya walaupun euro berhasil beranjak naik. Penguatan dolar index lebih disebabkan oleh yen yang melemah.

“Pagi ini ditunggu angka manufaktur China yang diperkirakan membaik. Kombinasi buruknya revisi angka PDB AS dan baiknya angka China berpeluang membawa pelemahan dolar di pasar Asia pagi ini,” kata Rangga.

This entry passed through the Full-Text RSS service – if this is your content and you’re reading it on someone else’s site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Bisnis.com