Direktur PT Capital Bridge Indonesia NS Aji Martono

NS Aji Martono, Direktur PT Capital Bridge Indonesia melihat peluang indeks untuk masih tetap manis dalam kisaran 4.250-4.303 hingga akhir pekan ini. Tapi, jika AS mencapai solusi atas jurang fiskalnya, IHSG berpeluang menembus resistance 4.350 dan kembali membuka peluang ke level tertingginya sepanjang sejarah.

Hanya saja, dengan penurunan IHSG sebelumnya, 4.300-an masih menjadi resistance dan 4.350 sebagai resistance akhir Desember. Target resistance tersebut sudah memfaktorkan window dressing. “Jika melihat sentimen yang ada terutama isu jurang fiskal AS dan waktu yang tersisa saat ini hingga akhir 2012 tinggal beberapa hari, saya tidak bisa melihat pergerakan indeks lebih jauh,”.

Pada perdagangan Rabu (5/12/2012) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 17,19 poin (0,40%) ke posisi 4.286,84 dengan intraday tertinggi 4.288,311 dan terendah 4.254,029. Begitu juga dengan indeks saham unggulan LQ45  yang naik 2,51 poin (0,35%) ke posisi 727,69. Berikut ini wawancara lengkapnya:

IHSG menguat 0,40% kemarin. Bagaimana Anda melihat arahnya Kamis (6/12/2012) ini?

Dengan penguatan kemarin, IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound Kamis ini dan bisa saja menembus resistance 4.303. Tapi, saya masih melihat investor cenderung akumulasi tapi sebagian masih melakukan aksi profit taking. Karena itu, untuk Kamis ini, support indeks masih akan berada di level 4.250 dan resistance di 4.303 dengan kecenderungan menguat.

Apa yang menyembabkan pemodal beraksi profit taking?

Dari dalam negeri, sebenarnya pasar tidak mendapat masalah yang berarti. Tapi, pasar mewaspadai faktor ekonomi dunia seiring jurang fiskal AS akhir tahun ini dan masalah utang Eropa. Faktor AS dan Eropa, masih tetap jadi wanti-wanti para investor dan berefek pada transaksi jangka pendek di bursa saham. Investor tidak terlalu lama menyimpan saham dengan trading mengikut alur pasar (follow the market).

Artinya, pemodal melakukan bargaining pada beberapa saham dan jika secara teknikal sudah layak jual, mereka profit taking. Pola-pola trading dengan stop loss position di beberapa saham coba digunakan untuk mengurangi tingkat kerugian yang mungkin terjadi.

Bagaimana jika support 4.250 ditembus?

Secara teknikal, jika support tersebut ditembus, IHSG berpeluang turun ke bawah 4.200.Tapi, saya tetap melihat, indeks masih tetap manis dalam kisaran 4.250-4.303. Bahkan, kisaran ini bisa berlaku hingga akhir pekan.

Sebaliknya, jika AS mencapai solusi atas jurang fiskalnya, IHSG berpeluang menembus resistance 4.350 dan kembali membuka peluang ke level tertingginya sepanjang sejarah. Tapi, dengan kondisi penurunan IHSG sebelumnya, 4.300-an masih menjadi resistance dan 4.350 sebagai resistance akhir. Kisaran resistance itu masih akan terjadi pada laju IHSG hingga akhir Desember.

Window dressing bagaimana peluangnya?

Target resistance tersebut sudah memfaktorkan window dressing. Untuk tembus 4.400, memang masih ada harapan. Hanya saja, jika melihat sentimen yang ada terutama isu jurang fiskal AS dan waktu yang tersisa saat ini hingga akhir 2012 tinggal beberapa hari, saya tidak bisa melihat pergerakan indeks lebih jauh.

Pasalnya, setiap aksi akumulasi beli yang dilakukan pemodal terhadap suatu saham bluechip, akan disusul dengan profit taking. Contohnya, saham PT Astra International (ASII) yang diakumulasi oleh pemodal saat mencapai harga buttom support-nya di Rp6.900 sehingga mengalami kenaikan. Tapi, aksi profit taking masih tetap terjadi di saham tersebut.

Itulah, yang menghambat indeks untuk bergerak naik lebih cepat. Karena itu, bauran fundamental dan teknikal penting dilakukan untuk melihat arah suatu saham. Namun demikian, saya juga melihat, saham-saham sektor konstruksi pada akhirnya bisa menahan penurunan indeks lebih dalam.

Apalagi, window dressing merupakan hal biasa dilakukan di akhir tahun untuk coba menaikkan jatuhnya posisi tawar dalam kinerja emiten sehingga indeks akan terangkat di akhir tahun.

January Effect?

Hanya saja, bisa jadi, di awal 2013, IHSG kembali dilanda profit taking jika fiscal cliff AS tak mencapai solusi hingga akhir Desember ini. Karena itu, January effect 2013 pun bisa tidak terjadi. Sebab, investor justru bersih-bersih posisi untuk menunggu pekan ketiga-keempat Januari bahkan baru pada awal Februari melakukan bargaining position kembali untuk merapikan portofolio mereka.

Saham-saham pilihan Anda?

PT Astra International (ASII), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) di level Rp6.950,PT Adhi Karya (ADHI), PT Wijaya Karya (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (PTPP) , PT Total Bangun Persada (TOTL), PT Duta Graha Indah (DGIK), dan PT Jasa Marga (JSMR).

Bagaimana strategi trading pada saham-saham tersebut?

Saya rekomendasikan akumulasi bertahap.