[ad_1]

Jakarta – PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) berencana menawarkan maksimal 49% saham salah satu anak usahanya kepada investor strategis. Divestasi tersebut merupakan upaya perseroan menggalang dana eksternal untuk membiayai ekspansi.

Direktur Keuangan Semen Indonesia Darmawan Junaidi mengatakan, perseroan tetap akan menjadi pemegang mayoritas saham atau minimal 51%. Investor baru nantinya juga hanya dapat menggenggam saham anak usaha perseroan dalam periode tertentu, misalnya delapan atau 10 tahun.

“Kami belum menentukan anak usaha mana yang akan dilepas sahamnya beserta nilainya. Skemanya bukan dilepas sepenuhnya, tapi ada periode tertentu,” kata Darmawan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Darmawan menegaskan, penggalangan dana melalui skema penjualan saham anak usaha diperkirakan lebih menguntungkan, ketimbang melalui penerbitan obligasi yang memiliki kupon secara periodik. Saat ini, perseroan masih melakukan penjajakan dengan mitra strategis dalam negeri maupun asing. Namun, mitra tersebut diperkirakan bukan perusahaan semen.

“Margin Semen Indonesia itu sekitar 27%. Siapapun pihak yang berminat masuk ke industri semen, kami terbuka bekerjasama. Kami perkirakan cara ini lebih strategis,” ujar dia.

Saat ini, Semen Indonesia memiliki empat anak usaha yang telah beroperasi dan memproduksi semen, yakni PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, PT Semen Gresik, dan Thang Long Cement Joint Stock Company. Tahun ini, perseroan juga baru membentuk perusahaan patungan dengan PT Samana Citra Agung untuk membangun pabrik di Aceh, yakni PT Semen Indonesia Aceh.

Sementara itu, mengenai emisi obligasi, perseroan tetap mengkajinya sebagai salah satu opsi pendanaan ekspansi tahun depan. Namun, Darmawan belum menetapkan kisaran nilai penerbitan surat utang tersebut. Sepanjang tahun ini, mayoritas pembiayaan ekspansi masih berasal dari kas internal dan pinjaman.

Tahun ini, Semen Indonesia menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar 20-25% dari proyeksi pendapatan 2016 yang sebesar Rp 26,94 triliun. Dengan demikian, capex tahun ini berkisar Rp 5,3-6,7 triliun. Hingga kuartal I-2016, perseroan sudah menyerap 22% capex.

Pinjaman
Sementara itu, Semen Indonesia melalui PT Semen Gresik meraih kredit teranyar dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 3,96 triliun. Pinjaman tersebut terdiri atas kredit investasi sebesar Rp 3,46 triliun dan kredit modal kerja sebesar Rp 500 miliar.

Fasilitas kredit dari Bank Mandiri akan digunakan‎ untuk membiayai proyek pabrik Rembang. Kerja sama tersebut juga merupakan salah satu bentuk sinergi antar BUMN. Saat ini, Semen Indonesia sedang menyelesaikan dua pabrik semen terintegrasi, yakni di Rembang dan Indarung VI dengan masing-masing kapasitas produksi tiga juta ton per tahun.

Hingga April 2016, pengerjaan pabrik Indarung VI di Padang, Sumatera Barat, telah mencapai 89,32%. Sedangkan pabrik Rembang di Jawa Tengah mencspai 90,64%. Dengan selesainya kedua pabrik baru tersebut, kapasitas perseroan meningkat menjadi sebanyak 37,8 juta ton.

Bisnis Beton
Sebelumnya, Semen Indonesia dikabarkan mengincar sebagian saham PT Waskita Beton Precast, anak usaha PT Waskita Karya Tbk (WSKT), yang akan dilepas melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Langkah tersebut merupakan strategi perseroan memperkuat lini bisni baru, termasuk beton siap pakai (ready mix) dan pracetak tahun ini.

Manajemen Semen Indonesia pernah mengungkapkan, langkah perseroan membesarkan bisnis beton adalah menambah modal pada anak usaha yang sudah ada atau melalui jalan akuisisi. Jika akuisisi yang dipilih, perseroan memilih untuk memiliki minoritas saham.

Sebagai informasi, Semen Indonesia telah memiliki anak perusahaan yang bergerak di bisnis beton siap pakai, yakni PT SGG Prima Beton yang beroperasi di Gresik, Jawa Timur. Anak usaha yang dimiliki sepenuhnya oleh perseroan tersebut telah beroperasi komersial sejak 2012. Selain itu, perseroan juga menguasai 36,67% saham PT Varia Usaha Beton.

Untuk penambahan modal ke anak usaha yang telah ada, perseroan menyiapkan dana sekitar Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun. Dana penambahan modal akan berasal dari alokasi capex tahun ini.

Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra pernah mengatakan, pengembangan bisnis baru itu bertujuan untuk membuat perseroan lebih kompetitif serta mendorong pertumbuhan. Perseroan menargetkan kenaikan penjualan sebesar 5% sepanjang tahun ini. Selain domestik, perseroan juga melihat peluang ekspansi di beberapa negara di Asia.

 


Investor Daily

Farid Nurfaizi/MHD

Investor Daily

[ad_2]

Source link