Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada Allah jualah kita kembali”

Bacaan tersebut dikenal dengan sebutan bacaan tarji’. Tarji’ merupakan frase umat Islam apabila seseorang tertimpa musibah dan biasanya diucapkan apabila menerima kabar duka cita. Frasa ini adalah sebagian dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah, ayat 156:

“(Yaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh suatu kesusahan, mereka berkata: Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.”

Sebaliknya, ketika kita menerima nikmat, maka kita diwajibkan bersyukur kepada Allah. Minimal diwujudkan dengan mengucap hamdalah. Allah akan menambah nikmat-Nya kepada mereka yang mensyukurinya. Sekiranya tidak mensyukuri nikmat Allah, seseorang akan diberi predikat kufur nikmat. Siksanya pun amat pedih!

Maka, kami memahaminya: baik musibah (yang seringkali hanya diasosiasikan dengan kabar duka cita atau kematian) ataupun kenikmatan (yang seringkali diasosiasikan atas sesuatu yang memberikan rasa suka cita)—keduanya adalah cobaan.

Apakah ketika suatu perkara yang membuat kita berduka atau bersediah hati menjadikan kita bersabar dan menggantungkan harapan kepada Allah semata: “Allahush-shomad.”
Apakah ketika suatu perkara yang membuat kita merasa bahagia menjadikan kita bersyukur kepada Allah dan menyadari semua nikmat itu berasal dari Allah: “Man kaana min-ni’matin faminallah.”
Keduanya sebagai cobaan, karena kita diuji apakah ketika kedua hal tersebut mengenai diri kita, lantas kita mengembalikannya kepada Allah: “Wainnaa ilaihi raajiuun,” baik dalam bentuk amaliah sabar ataupun syukur.

Bagaimana amaliah sabar dan syukur dapat kita jalani, tampaknya tergantung pada bagaimana kita memahami hakekat keberadaan “hidup” dan “mati” yang mengenai diri kita.

Apakah keberadaan “hidup” kita adalah milik kita, dengan demikian kita dapat mengatur “waktu kehidupan” untuk diri kita sendiri?
Apakah kita dapat mengendalikan datangnya “kematian”, sehingga ketika azal menjemput, kita dapat menghindarinya?
Ternyata dengan kejujuran kita menjawab: Tidak! Shalat, ibadah lainnya, hidup, dan mati kita adalah milik Allah. Diri kita adalah milik Allah, di luar diri kita pun milik Allah.

“Laa malikal mulki illallah” (“Tiada yang empunya milik kecuali Allah”).
“Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin” (“Sesungguhnya shalatku dan ibadah qurbanku, hidupku dan matiku, hanya milik Allaah Rabb Semesta Alam”).
Maka, sudah sewajarnya kita bersabar ketika sesuatu yang tidak mengenakkan nafsu (keinginan dan harapan) kita. Ketidaksabaran (kekecewaan, sedih berkepanjangan, penolakan, dan sejenisnya) muncul karena sesorang merasa memiliki sesuatu.

Allah SWT pernah mengingatkan Nabi Ayub AS ketika beliau bersediah karena ulat yang ada padanya sudah menggerogoti hampir semua daging pada bagian tubuhnya, kecuali lidah dan hati beliau.

Nabi Ayub AS bersedih bukan karena tidak sabar, tapi beliau bersediah karena—jika ulat itu memakan lidahnya, bagaimana beliau bisa terus “berdzikir kepada Allah” dan jika ulat itu memasuki hatinya, bagaimana beliau “mengingat Allah”?

Allah berfirman:

“Wahai Ayyub, ulat yang ada padamu itu dari-Ku. Rasa sakit yang mengenaimu pun dari-Ku. Lidah itu Milik-Ku. Hati itupun milik-Ku. Mengapa engkau bersedih?”

Sebaliknya, ketika nikmat mengenai diri kita, sudah seharusnya kita mengembalikan kepada Allah. Karena itu memang milik Allah. Tidak sewajarnya kita bangga dan berbesar-kepala karena suatu anugerah kebaikan yang diberikan oleh Allah pada kita. Semua itu hanya titipan.

Titipan fisik bisa berwujud jasmani kita, mencakup semua organ yang ada pada tubuh kita. Titipan rohani berupa perangkat-perangat seperti akal, pikiran, ruh, nafsu, syahwat, nyawa, dan sukma. Titipan nurani berupa sifatul insan (sifat-sifat yang dititipkan kepada manusia): amarah, lawamah, mulhimah, muthmainah, rodhiyah, mardhiyah, dan shufiyah.

Semua itu milik Allah. Kita diminta memperlakukan titipan itu sebagaimana mestinya sebuah titipan. Bukan memilikinya. Pertama, agar kita tidak dihisab di hari akhir. Dengan kata lain, agar kita termasuk ke dalam kategori orang-orang yang “bighoiri hisab”, “tanpa dihisab”—karena tidak mengklaim apa yang tidak menjadi milik kita. Kedua, lebih utama lagi, agar kita senantiasa meng-Esa-kan Allah dalam tindakan, pikiran, dan perasaan.

“Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin“ (“Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepada-Mu”)

Maka, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” mengandung makna yang sangat dalam. Bukan hanya diucapkan ketika mendengar kabar duka cita, tapi mengingatkan kita bahwa: “Segala sesuatu berasal dari Allah dan harus dikembalikan kepadanya”, karena “segala sesuatu adalah milik Allah.”

Dan Allah jualah yang memberikan pertolongan ke jalan yang lurus. (NA)