[ad_1]

Jakarta – PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex/SRIL) resmi menerbitkan obligasi global senilai US$ 350 juta dengan bunga sebesar 8,25% dan akan jatuh tempo pada 2021. Perseroan sebelumnya telah menawarkan obligasi tersebut kepada investor di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino mengungkapkan, nilai emisi obligasi yang diterbitkan perseroan lebih rendah dari rencana awal yaitu sebesar US$ 420 juta. Hal tersebut terjadi karena hanya sebesar US$ 180,7 juta pemegang obligasi lama perseroan yang mau menjual obligasinya kepada Sritex.

“Obligasi lama yang diterbitkan Sritex melalui anak usahanya di Singapura sebelumnya sebesar US$ 270 juta dengan bunga 9% dan jatuh tempo pada 2019,” jelas manajemen Sritex dalam keterangan resmi, akhir pekan lalu.

Manajemen Sritex mempercepat jadwal road show dari yang dijadwalkan semula untuk mengantisipasi situasi pasar yang semakin tidak pasti menjelang Brexit referendum maupun rapat The Fed yang kemungkinan akan menaikkan kembali suku bunga.

Keputusan mempercepat road show itu membuahkan hasil yang cukup menggembirakan, karena permintaan obligasi perseroan mendapat respons positif. Selain itu terdapat permintaan yang kuat dari para investor, sehingga kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 2 kali di tengah situasi dan kondisi perekonomian global yang sedang tidak menentu.

Perseroan akan menggunakan hampir seluruh dana hasil penerbitan obligasi untuk membiayai kembali (refinancing) utang, yaitu pembelian kembali obligasi lama yang diterbitkan pada 2014 berbunga 9% yang jatuh tempo pada 2019, serta membayar pinjaman modal kerja. Sisa dari dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan perusahaan secara umum dalam mendukung kegiatan usaha.

Dengan demikian, sisa obligasi lama perseroan saat ini sebesar US$ 89,3 juta. Penerbitan obligasi baru dari sisi gearing adalah netral, karena tidak menambah rasio utang Sritex. Hampir seluruh dana atas penerbitan obligasi digunakan untuk membayar utang atau refinancing.

Selain memperoleh manfaat penghematan biaya bunga pinjaman atas utang obligasi lama, perseroan mampu meningkatkan profil likuiditas di mana jatuh tempo utang menjadi lebih panjang. Perseroan telah berhasil melakukan penghematan biaya pinjaman dan meningkatkan struktur modal.

Tahun ini merupakan tahun akhir dari program pengeluaran modal perseroan, sehingga pengeluaran modal tahun ini dianggarkan hanya sekitar US$ 50-60 juta, yang mana pendanaannya sudah terpenuhi dari kas internal dan hasil operasional.

Akhir 2016 diperkirakan mesin-mesin sudah mulai beroperasi dan akhir 2017 diharapkan kapasitas produksi untuk spinning meningkat 16% menjadi 654.000 bales per tahun, weaving meningkat 50% menjadi 120 juta meter per tahun, dyeing/finishing meningkat 100% menjadi 240 juta yard per tahun, dan gamen meningkat 67% menjadi 30 juta potong per tahun.

Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi tersebut, maka ke depan rasio utang berbunga dibanding pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (debt to EBITDA) akan berada di bawah 3 kali pada 2018. Tahun lalu, debt to EBITDA perseroan tercatat sebesar 3,8 kali.


Investor Daily

Muhammad Rausyan Fikry/MHD

Investor Daily

[ad_2]

Source link