Semangat mereka menggebu. Kata demi kata terus diketik dalam tuts laptop sehingga tampak tersusun rapi. Kata itu terangkum dan terbungkus dalam sebuah kalimat, mengalir deras membentuk sebuah tulisan. Singkat, padat dan bernas, meski kadang masih terselip kata tidak sesuai Ejaan Yang Disempurnakan. Tapi itu bukan penghalang mereka untuk tetap menulis, membumikan karya dan mengasah ketajaman pena untuk jadi senjata dakwah.

Aktivitas menulis yang mereka populerkan, memang tidak lepas dari aneka celaan maupun kritikan. Banyak tulisan mereka dirangkai kadang seadanya, polos dan jujur. Masih banyak kalimat yang harus dipoles sehingga menjadi sesuatu yang indah dan enak dibaca. Tapi sudahlah, menulis itu terkadang bukan pekerjaan berteori, sebab teori menulis mudah asalkan mau serius mempelajarinya. Apalagi perlu diingat, menulis merupakan pekerjaan panjang, penuh kejujuran, berniat untuk menyadarkan orang lain dan terpenting, menulis harus dimulai sekarang juga.

Mengenai komunitas ini, izinkan saya sedikit bercerita. Dalam sebuah kesempatan, seorang kawan di sebuah organisasi pergerakan mahasiswa tempat mereka bergabung melontarkan kritik. Mengapa komunitas ini seperti “amnesia” dengan aksi di lapangan (baca: demonstrasi)? Lain kesempatan, seorang teman menyindir, “Saya belum pernah mendengar dengan tulisan, sebuah kekuasaan korup jatuh dan menghasilkan kemenangan untuk rakyat Indonesia”. Berbagai kritikan itu sebenarnya mudah terjawab, tapi untuk apa dijawab, sebab esensi dakwah bukan persoalan prioritas bekerja atau berwacana, melainkan bagaimana kita berkontribusi dengan kemampuan yang dimiliki.

Sampai sekarang saya juga masih berpikir, apakah tujuan awal komunitas ini memilih jalan pena dan sukses membukukan 300 tulisan dalam sebuah blog? Sebuah blog yang tak disangka, setiap saya berkunjung ke daerah sudah sangat familiar di kalangan aktivis organisasi mahasiswa tersebut. Tidak salah rasanya saya menyitir perkataan sastrawan Taufik Ismail, “Mereka anugerah terbaik dari Allah yang diturunkan untuk Indonesia”.

Memang, jangan Anda pernah berpikir mereka unggul kuantitas dalam demonstrasi lapangan. Sungguh, Anda akan kecewa jika mengharapkan itu terjadi. Tapi kualitas dalam berkarya, selayaknya mereka harus diacungi jempol dalam menghidupkan tradisi intelektual ilmuwan dan ulama Islam. Sekali lagi, tanpa meminggirkan betapa penting keseimbangan ilmu dan amal. Bukan mempertentangkan keduanya, sebab itu sama dengan Anda harus memilih telur dan ayam, mana yang lebih dulu ada.

Sekarang sudah hampir tiga kali, komunitas ini mengalami pergantian ketua umum. Secara jumlah, mereka tidak dapat dikatakan banyak. Tapi kesuksesan besar dapat diraih dan berkah untuk dakwah, di mana tulisan mereka mampu menginspirasi kelompok kepenulisan lainnya berkembang. Minimal dalam skala organisasi kemahasiswaan reformis, mereka sudah memulai sebuah usaha mengupayakan berkarya, menggagas ide segar dan tinggal bagaimana mengaplikasikan gagasan itu dalam ranah kerja nyata. Saya sendiri berpikir, soal realisasi tidak harus mereka, sebab gagasan itu akan terwujud ketika semua yang gelisah mampu dan merasa memilikinya sehingga berkembang menjadi kerja nyata.

Akhirnya, saya berharap ada tiga kunci penting dalam mengupayakan eksistensi komunitas di masa mendatang. Pertama, istiqomah berkarya. Dalam kehidupan, segala kritikan adalah masukan yang berharga. Setiap kontribusi terhadap dakwah, Allah SWT sudah menghitungnya dengan baik dan tak ada yang terlewatkan. Alquran juga menegaskan, tidak semua muslim harus berjihad ke medang perang. Tetap ada sekelompok muslim yang menuntut ilmu dengan mempelajari, menuliskan dan mengajarkan kepada umat Islam.

Kedua, meningkatkan kualitas dan kompetensi kepenulisan. Sudah banyak karya, tidak selayaknya membuat para penulis di komunitas ini berpuas diri. Peningkatan kapasitas dengan mengikuti pelatihan, seminar, workshop dan berguru kepada penulis senior tetap dibutuhkan. Alangkah indahnya jika mengamalkan prinsip padi, “Semakin berisi, padi semakin menunduk”. Teruslah menginspirasi organisasi mahasiswa Anda, tetaplah menginspirasi banyak orang untuk menulis sebagai sebuah kerja keabadian.

Ketiga, meniatkan dakwah pena sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedudukan niat dalam kehidupan beragama seorang muslim merupakan persoalan utama dan pertama. Untuk itu, sudah selayaknya para pejuang pena meluruskan niat, sebab apa yang ditulis akan dipertanggungjawabkan kelak. Tinta emas itu harus mampu menjadi virus kebaikan, sehingga pesona dakwah Islam dapat dirasakan semua kalangan secara luas. Saya akhirnya mengenali, komunitas itu adalah Gerakan KAMMI Menulis.

Inggar Saputra

Penulis 25 Antologi Populer, Pengurus Pusat KAMMI.