[ad_1]

Ada sekitar 22.000 lapangan kerja yang terbuka.


VIVA.co.id – Gelaran Torabika Soccer Championship (TSC) menjadi oase di tengah dahaga dunia sepakbola Tanah Air. Digelar PT. Gelora Trisula Semesta (GTS) saat sanksi FIFA masih membekap PSSI, GTS mampu memberikan sumbangan positif tak hanya bagi dunia sepakbola, tapi juga bagi perekonomian Indonesia.


Dalam laporan evaluasi PT. GTS yang sudah menggelar TSC selama delapan pekan, siapa sangka gelaran ini justru mampu memberikan input positif bagi perekonomian Indonesia.


Dirut PT. GTS, Joko Driyono mengatakan, jika TSC punya sumbangan besar bagi perekonomian Indonesia. Beberapa dampak positif yang diberikan TSC adalah terbukanya 7.000 lapangan pekerjaan secara langsung. Sektor ini meliputi pemain, pelatih, wasit, ofisial pertandingan, dan lain-lain.


Selain itu, data PT. GTS juga menjelaskan ada sekitar 22.000 lapangan kerja yang terbuka secara tidak langsung. Jumlah tersebut di luar sektor lapangan kerja langsung seperti halnya, pekerja media, sponsorship, hingga pedagang.


Yang lebih mencengangkan lagi, TSC nilai tambah ekonomi (Gross Value Added/GVA) sebesar US$139 juta (Rp1,8 triliun). Jumlah ini terakumulasi dari pengaruh langsung operasional PT. GTS dengan klub sebesar US$64 juta (Rp843 miliar), pengaruh tak langsung PT. GTS dan klub US$24 juta (Rp315 miliar), dan biaya total rata-rata US$51 (Rp670 miliar).


Data-data ini dihasilkan dengan salah satu mitra PT. GTS yakni Waterhouse Price Cooper, badan internasional yang fokus dalam audit keuangan dan konsultan keuangan.


Dari data-data tersebut, jelas bahwa TSC punya dampak besar tak hanya bagi dunia sepakbola Indonesia, tapi juga untuk perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Data-data tersebut kemungkinan bisa bertambah, mengingat TSC masih akan bergulir hingga bulan Desember mendatang.


(mus)













BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Load More…

[ad_2]

Source link