SETIAP 27 Juni, dunia bersama-sama menghormati Hari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Sedunia.
Bukan sekadar seremoni, momen ini mengakui peran besar UMKM dalam membangun kehidupan ekonomi masyarakat.
UMKM adalah kisah-kisah nyata, perjuangan dan harapan yang membumi di setiap daerah.
Di Indonesia, peringatan ini terasa lebih istimewa.
UMKM telah menjadi tulang punggung ekonomi nasional, menopang kehidupan jutaan keluarga.
Saat ini, lebih dari 97 persen tenaga kerja berada dalam sektor UMKM, dan kontribusi mereka pada Produk Domestik Bruto (PDB) melebihi 60 persen. (27/06/2025)
Data ini bukan sekadar angka—ini representasi sejati dari keringat dan mimpi masyarakat.
Budi Arie Setiadi, Menteri Koperasi dan UKM, menyampaikan tekadnya bahwa masa depan Indonesia bergantung pada UMKM yang kuat dan gigih.
“UMKM bukan hanya soal bertahan hidup, tapi soal bagaimana mencipta produk yang berdaya saing global, menghidupi keluarga, dan tumbuh sebagai usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dia pun menegaskan, peranan UMKM sebagai motor ekonomi rakyat harus terus diberdayakan.
Dengan memanfaatkan teknologi dan akses pembiayaan, UMKM bisa naik kelas dan menembus pasar internasional.
Inilah visi jasmani dan rohani menuju Indonesia Emas 2045—negara adidaya yang lahir dari kekuatan akar rumput.
UMKM: Lebih Dari Bisnis, Ini Harapan Banyak Keluarga
UMKM bukan sekadar usaha.
Di baliknya, banyak cerita tentang impian orang tua agar anak bisa sekolah, tentang keberanian anak muda membuka usaha kreatif, tentang harapan perempuan membangun kemandirian ekonomi keluarga.
Dalam data, ada lebih dari 65 juta pelaku UMKM aktif di Indonesia pada 2024.
Mereka hadir di mana saja: dari warung kecil di tepi jalan, toko tato di kota, sampai pengrajin batik di desa terpencil.
Inilah wajah asli ekonomi Indonesia—yang tumbuh dari bawah, mengalir ke atas.
UMKM juga menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Mereka menciptakan lapangan pekerjaan bagi tetangga, teman sekolah, dan komunitas sekitar.
Sudah lama, UMKM memberikan ruang inklusif bagi kelompok marjinal—ibu tunggal, penyandang disabilitas, hingga pemuda desa yang tidak melihat batas peluang.
Tantangan Berat Yang Masih Harus Dihadapi
Perjuangan UMKM tidaklah mudah.
Mereka masih menghadapi rintangan serius—seperti kesulitan akses pembiayaan dan masih lemah dalam literasi digital.
Meskipun menyerap mayoritas tenaga kerja, hanya sekitar 20 persen kredit perbankan menyentuh UMKM berdasarkan laporan Bank Indonesia.
Digitalisasi pun belum optimal.
Banyak pelaku UMKM belum memanfaatkan internet untuk pemasaran atau transaksi digital.
Padahal, di era digital, PANCAKAYAKAN pasar tidak lagi punya batas, siapa yang bisa cepat beradaptasi, dia yang akan bertahan dan tumbuh.
Digitalisasi dan Pembiayaan: Dua Jalan Menuju Naik Kelas
Pemerintah menargetkan 30 juta UMKM masuk ekosistem digital pada 2025.
Target ini bukan sekadar angka, tapi pintu gerbang agar pelaku UMKM bisa menjual produk hingga ke mancanegara, mengoptimalkan efisiensi, dan membangun brand digitalnya.
Budi Arie Setiadi menegaskan, “Teknologi bukan lawan UMKM tradisional. Malah, teknologi adalah sahabat. Dia membuka peluang agar usaha rakyat bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.”
Di sisi pembiayaan, program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus digencarkan.
Uang modal kini semakin mudah diperoleh dengan bunga rendah. Ditambah lagi, kemunculan fintech membuka akses pada modal cepat dan fleksibel.
UMKM yang berani berubah, memeluk teknologi dan memaksimalkan peluang modal, terlihat siap menaiki jenjang usaha lebih tinggi.
Peran Kolaborasi: Ekosistem Kunci UMKM Tumbuh
Perjalanan UMKM bukan tanggung jawab pemerintah sendirian.
Peran swasta, komunitas, lembaga pendidikan, dan lembaga profesi menjadi kunci penting dalam membangun ekosistem yang kuat.
Sebagai contoh, PROPAMI kini mendorong pelaku UMKM mengenal equity crowdfunding di pasar modal.
Anak muda penggiat usaha mulai merasakan manfaat dan modal dari investor yang mendukung potensi bisnis mereka.
Pelaku UMKM juga dipersiapkan untuk mendapatkan sertifikat kualitas dan merek yang diakui, agar produk layak masuk pasar ekspor.
Inilah perjalanan konkret agar UMKM naik kelas dan dapat bertahan lebih lama.
UMKM Hijau: Menjaga Alam Selagi Berupaya
Minat akan ekonomi hijau di kalangan UMKM terus meningkat.
Mereka memilih bahan baku ramah lingkungan, mengelola limbah dengan baik, dan menggunakan proses produksi yang lestari.
Program kolaborasi antara KLHK dan Kementerian Koperasi dan UKM mendampingi UMKM untuk menerapkan usaha hijau.
Tidak hanya peduli lingkungan, UMKM ini membuka peluang besar memasuki rantai pasok global yang kini sangat menghargai produk berkelanjutan.
SDM Unggul: Jantung dari UMKM Berdaya Saing
UMKM kuat membutuhkan SDM yang terampil, inovatif, dan punya daya tahan mental.
Keterampilan dasar seperti manajemen keuangan, pemasaran digital, hingga kemampuan ekspor menjadi sangat penting.
NS Aji Martono, Komisioner BNSP, menegaskan, “Sertifikasi kompetensi bukan sekadar bait-bait formal. Sertifikasi lahir dari kebutuhan nyata: agar pelaku UMKM punya standar yang diakui dan kepercayaan yang tidak diragukan.”
Melalui program sertifikasi kompetensi dari LSP yang diakui BNSP, UMKM bisa membuktikan bahwa mereka terlatih, profesional, dan layak dipercaya pasar—baik lokal maupun global.
Dengan manusia berkompetensi dan berjiwa profesional, UMKM Indonesia tidak sekadar bertahan di krisis, tetapi juga bisa bertumbuh saat dunia menuntut inovasi dan kualitas.
UMKM Indonesia, Mari Naik Kelas Bersama
Kampus bangsa—yang lahir dari desa, kota kecil, atau warung pinggir jalan—harus siap melompat ke trek global.
Hari UMKM Sedunia 27 Juni 2025 adalah pengingat bahwa mimpi besar perempuan, pemuda, dan keluarga di balik UMKM mesti diperjuangkan bersama.
Negara maju tidak lahir dalam semalam.
Dia dibangun melalui jutaan usaha kecil yang tangguh, mandiri, dan produktif.
Melalui teknologi, modal, kolaborasi, dan keahlian manusia, UMKM bukan hanya akan bertahan, tetapi menjadi pilar Indonesia Emas 2045.
Mari berdiri bersama, belilah produk lokal, dukung inovasi mereka, dan bantu menyebarkan kisah mereka ke dunia.
Karena Indonesia besar dimulai dari tangan-tangan kecil yang gigih dan berani bermimpi.
FAQ – Pertanyaan yang Sering Diajukan
- Apa yang diperingati setiap 27 Juni?
Hari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Sedunia. - Mengapa UMKM penting bagi Indonesia?
Sebab UMKM menyerap 97 persen tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 60 persen PDB. - Apa kendala paling besar pelaku UMKM?
Kesulitan modal, kurang melek digital, dan daya saing produk yang rendah. - Bagaimana pemerintah mendukung UMKM?
Melalui pembiayaan murah, digitalisasi, dan pelatihan yang intensif. - Apa target digitalisasi UMKM?
Menghubungkan 30 juta UMKM dengan ekosistem digital pada 2025. - Apa arti sertifikasi kompetensi bagi UMKM?
Menjamin kualitas, memperkuat reputasi, dan meningkatkan kepercayaan pasar. - Siapa yang mengeluarkan sertifikasi kompetensi untuk UMKM?
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang diakreditasi oleh BNSP. - Bagaimana UMKM bisa naik kelas?
Melalui teknologi, akses pembiayaan, kualitas produk, dan akses ekspor. - Apa itu UMKM hijau?
Usaha kecil yang ramah lingkungan dan menerapkan prinsip keberlanjutan. - Bagaimana publik bisa mendukung UMKM?
Dengan membeli produk lokal, membagikan di media sosial, dan mendukung gerakan ekonomi lokal.

