AJIMARTONO.COM – Bagi seorang asesor kompetensi, memiliki “rumah” bukan sekadar metafora.
Itulah pesan utama yang disampaikan Komisioner BNSP, Nurwijoyo Satrio Aji Martono, saat membuka Pelatihan dan Uji Kompetensi Calon Asesor yang diselenggarakan oleh LSP Transafe Dharma Persada pada 9 Desember 2024.
“LSP adalah rumah bagi para asesor. Rumah ini harus dijaga melalui profesionalisme dan integritas dalam menjalankan asesmen,” ujarnya di hadapan peserta yang hadir dari berbagai daerah (15/5/2025).
Acara yang berlangsung selama lima hari ini (9–13 Desember 2024) dibagi ke dalam dua lokasi: pelatihan teori dilaksanakan di training center Tebet Timur, sementara praktek asesmen dan uji kompetensi dilakukan di fasilitas LSP Transafe di Cikoko, Jakarta Selatan.
Pelatihan ini diikuti oleh calon asesor dari berbagai wilayah—mulai dari Jakarta, Bekasi, Padang, hingga Batam—yang telah diseleksi ketat selama tiga bulan terakhir.
Mereka adalah para profesional di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang kini sedang melangkah ke tahap lebih lanjut: menjadi penilai kompetensi resmi di bawah sistem sertifikasi nasional.
LSP Sebagai Pilar Sertifikasi Profesi
Aji Komisioner BNSP juga percaya bahwa LSP bukan sekadar lembaga teknis.
Ia adalah simpul kepercayaan antara dunia industri dan tenaga kerja terampil.
Dalam konteks pelatihan ini, LSP Transafe menunjukkan perannya secara strategis.
Dipimpin oleh Ibu Ryska Nababan sebagai Ketua LSP dan Dony Budi Darma sebagai Ketua Dewan Pengarah, LSP Transafe telah mengelola 27 skema sertifikasi yang dipercaya oleh banyak perusahaan nasional dan multinasional di sektor migas, pertambangan, dan konstruksi.
Tak heran jika pelatihan ini mendapat antusiasme tinggi.
Tantangan: Profesionalisme, Bukan Sekadar Sertifikasi
Namun, menjadi asesor bukan hanya soal mendapatkan sertifikat.
Ini soal tanggung jawab menjaga mutu dan kredibilitas sistem.
Dalam banyak kasus, lemahnya profesionalisme asesor dapat berdampak langsung pada rendahnya kepercayaan industri terhadap hasil sertifikasi.
Oleh karena itu, dalam sambutannya Aji menekankan bahwa setiap asesor harus menjunjung tinggi prosedur, objektivitas, dan etika asesmen.
“Jika rumah ini kita rawat bersama, maka LSP tidak hanya jadi lembaga administratif, tetapi penjaga gawang kualitas SDM Indonesia,” ungkap aji di depan para peserta dan pengurus LSP.
Membangun Generasi Penilai yang Humanis dan Kompeten
Pelatihan ini juga menjadi momen reflektif bagi kita semua.
Bagaimana mungkin kita menuntut tenaga kerja unggul jika para penilainya tidak kompeten? Proses pelatihan seperti ini harus menjadi standar, bukan pengecualian.
Yang menarik, suasana pelatihan terasa hangat namun tetap fokus.
Interaksi peserta dengan para master asesor tidak kaku.
Diskusi berkembang, kritik dipersilakan, dan studi kasus menjadi metode utama.
Inilah yang saya sebut sebagai pendekatan humanis dalam pelatihan kompetensi—bukan sekadar transfer materi, tetapi pembentukan sikap dan nilai.
Dari Rumah ke Pilar SDM Nasional
Sebagai penutup, pelatihan asesor oleh LSP Transafe bukan hanya acara seremonial.
Ia adalah bagian dari gerakan besar menuju SDM unggul dan tersertifikasi secara kredibel.
Dalam perannya Komisioner BNSP, aji melihat bahwa transformasi besar harus dimulai dari hal-hal mendasar seperti ini: membangun rumah, memupuk profesionalisme, dan melahirkan asesor yang tidak hanya cerdas, tapi juga berintegritas.
Kita tidak sedang membangun gedung kosong bernama sertifikasi. Kita sedang membangun pilar masa depan—satu asesor kompeten dalam satu rumah profesionalisme.


