JAKARTA – Di tengah riuhnya hari-hari besar nasional, tanggal 3 Juni nyaris tak terdengar gaungnya. Bukan hari libur, bukan pula momen kenegaraan. Tapi bagi dunia keuangan Indonesia, tanggal ini menyimpan makna penting. Tepat pada 3 Juni 1952, bursa efek kita kembali berdenyut setelah lama mati suri sejak masa penjajahan. Sejak itulah, 3 Juni dikenang sebagai Hari Pasar Modal Indonesia.
Kini, lebih dari 70 tahun kemudian, peringatan itu bukan hanya tentang mengenang sejarah. Ia menjadi cermin untuk bertanya: sudah sejauh mana kita membangun pasar modal yang tak cuma ramai, tapi juga sehat, merata, dan berkelanjutan? Dan yang tak kalah penting—apakah kita telah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menghadapi perubahan cepat di dalamnya?
Investornya Meningkat, Tapi Apakah Literasinya Menguat?
Lima tahun terakhir, jumlah investor ritel di pasar modal melonjak tajam. Per April 2025, KSEI mencatat lebih dari 15 juta SID aktif—lonjakan lima kali lipat dibanding 2020. Sebuah capaian yang membanggakan, tentu. Namun di balik itu, ada pertanyaan krusial:
Apakah pertumbuhan itu juga dibarengi dengan pemahaman yang memadai?
Bertambahnya jumlah investor memang menggembirakan, tapi tanpa literasi yang kuat, justru bisa menimbulkan kerentanan baru di tengah gempuran informasi digital.
Pasar Semakin Terbuka, Tapi Risiko Tak Hilang
Hari ini, siapa pun bisa berinvestasi. Cukup ponsel dan koneksi internet, saham dan reksa dana bisa dibeli hanya dalam hitungan detik. Tapi kemudahan ini menyimpan jebakan.
Fenomena FOMO (fear of missing out), rekomendasi ngawur dari influencer tanpa lisensi, dan spekulasi yang tak berbasis analisis kian marak.
Inilah tantangan era baru: inklusi tanpa edukasi justru menciptakan risiko yang tersembunyi.
Di PROPAMI, kami percaya literasi bukan cuma tahu, tapi mampu—mampu menimbang risiko, memahami instrumen, dan membuat keputusan dengan sadar.
SDM Unggul: Nyawa dari Pasar Modal yang Sehat
Sebagai Komisioner BNSP, saya meyakini: SDM adalah penentu utama arah pasar modal kita. Kita tak cukup hanya memiliki investor. Kita butuh analis, konsultan, fund manager, hingga tenaga compliance yang paham etika dan berpikir jangka panjang.
Lewat kerja sama PROPAMI, LSP, dan berbagai lembaga pelatihan, kami terus mendorong lahirnya skema sertifikasi baru—mulai dari bidang yang mulai naik daun seperti sustainability investing, hingga pengelolaan aset digital yang patuh regulasi.
Pasar modal adalah ekosistem. Ia hanya tumbuh jika seluruh elemen di dalamnya tumbuh bersama—regulator, industri, akademisi, dan masyarakat.
Investasi Bukan Cuma Urusan Untung
Arah selanjutnya: bagaimana pasar modal bisa berkontribusi terhadap pembangunan nasional?
Apakah kita hanya ingin pasar yang likuid, atau juga pasar yang bermakna?
Indonesia butuh lebih banyak emiten yang tak hanya membukukan laba, tapi juga peduli pada sosial dan lingkungan. Begitu juga investor: mereka harus mulai bertanya, “Dampak apa yang saya hasilkan lewat investasi ini?”
Inilah semangat yang kami dorong melalui value-based investing—investasi yang tak hanya menguntungkan, tapi juga berdampak. Selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, arah pembangunan tak bisa hanya mengejar pertumbuhan, tapi juga keberlanjutan.
Generasi Muda, Penentu Masa Depan Pasar Modal
Dengan lebih dari 70 persen penduduk Indonesia berada di usia produktif, generasi muda jadi kunci. Mereka bukan hanya pengguna platform investasi, tapi calon pemimpin pasar modal masa depan.
Jika kita gagal membekali mereka dengan literasi, etika, dan perspektif jangka panjang, bonus demografi bisa jadi bumerang.
Karena itulah, melalui program Youth Investor Academy, kami menggabungkan literasi digital, mentoring, dan jalur sertifikasi yang relevan—agar anak muda tak cuma cerdas berinvestasi, tapi juga bijak dan bertanggung jawab.
Pasar Modal Adalah Ruang Publik, Bukan Milik Segelintir
Pasar modal bukan milik satu profesi, satu generasi, apalagi satu kelas ekonomi. Ia adalah ruang bersama—tempat harapan masa depan ekonomi ditanam dan dirawat.
Hari Pasar Modal Indonesia tidak harus dirayakan dengan keriuhan. Ia cukup dikenang melalui kerja senyap: membangun SDM unggul, memperluas literasi, dan mendorong budaya investasi yang beretika.
Karena pada akhirnya, kekuatan pasar modal tak diukur dari seberapa banyak transaksinya, tapi seberapa bijak manusianya.







