AJIMARTONO.COM – Di tengah fluktuasi pasar dan derasnya arus produk keuangan baru, para profesional pasar modal dituntut tak sekadar piawai bertransaksi, tetapi juga memahami lanskap keuangan secara utuh dan etis.
PROPAMI, asosiasi profesi yang menjadi mitra strategis OJK, kembali menyelenggarakan Program Pelatihan Lanjutan (PPL) bagi para pemegang izin perseorangan Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE) dan Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE).
Selama tiga hari, sejak 2 hingga 4 Juni 2025, para peserta menjalani pelatihan yang tak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga menyentuh aspek etik dan strategis dari profesi pasar modal, (2/6/2025)
Pelatihan ini bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif tahunan. Di balik lembaran sertifikat yang diterbitkan, tersimpan semangat mendalam untuk mendorong profesionalisme dan kompetensi berkelanjutan di sektor keuangan Indonesia.
Apalagi, di era digital ini, dinamika pasar semakin kompleks, dari volatilitas makroekonomi global hingga hadirnya instrumen investasi berbasis teknologi seperti kripto, token aset, hingga ESG-based securities.
Kompetensi Tak Lagi Cukup, Harus Adaptif
Program ini dirancang menyeluruh. Para pemegang izin tidak hanya diminta memahami kembali struktur pasar efek, tetapi juga harus mampu menganalisis risiko investasi, membaca pergerakan pasar, serta menyusun strategi pengelolaan portofolio yang relevan dengan konteks terkini.
Materi pelatihan mengupas berbagai aspek krusial—dari analisis pasar dan tren, penilaian risiko investasi, hingga pendalaman soal manajemen portofolio dan etika profesi.
Lebih jauh, pelatihan ini juga memberi ruang diskusi terbuka soal praktik kepatuhan terhadap regulasi OJK, yang terus diperbarui mengikuti perubahan lanskap keuangan global.
“Profesi ini bukan hanya soal jual beli efek, tapi juga tentang menjaga integritas ekosistem pasar modal,” ujar Ari Supangat, salah satu narasumber yang dikenal kritis terhadap aspek perlindungan investor.
Belajar dari Praktisi, Bukan Sekadar Teori
Salah satu kekuatan PPL PROPAMI tahun ini adalah kehadiran para pemateri berpengalaman.
Titis Sosro dan Haryajid Ramelan—dua nama yang sudah malang melintang dalam dunia pasar modal—menyampaikan materi dengan pendekatan praktikal, mengaitkan teori dengan studi kasus nyata yang relevan dengan kondisi pasar hari ini.
Dalam satu sesi, Titis menjelaskan bagaimana penilaian risiko investasi tak bisa lagi hanya berbasis asumsi historis.
“Kita harus responsif terhadap indikator non-keuangan, seperti sentimen publik dan dinamika geopolitik yang mempengaruhi pasar secara langsung,” katanya.
Sesi Haryajid juga tak kalah reflektif. Ia menekankan pentingnya membangun trust sebagai modal utama dalam profesi penjaminan emisi.
“Tanpa kepercayaan, profesi kita kehilangan pijakan,” tegasnya di depan peserta yang menyimak serius.
Pasar Modal Butuh Talenta Tangguh dan Taat
Pelatihan ini seakan menjadi pengingat bahwa sektor pasar modal membutuhkan lebih dari sekadar orang pintar—ia butuh pelaku yang berintegritas, adaptif, dan sadar etika.
Terlebih, dengan target pertumbuhan investor ritel yang terus meningkat, maka kualitas para wakil perantara dan penjamin emisi akan sangat menentukan arah industri ke depan.
Dalam sesi penutup, moderator pelatihan menyampaikan refleksi penting: bahwa menjadi profesional pasar modal bukanlah karier biasa, tetapi sebuah tanggung jawab publik yang melibatkan nasib dana masyarakat, kredibilitas emiten, hingga stabilitas sistem keuangan.
Literasi Tanpa Batas
Program ini menjadi pengingat bahwa pelatihan bukan sekadar ritual tahunan, tapi bagian dari pembelajaran berkelanjutan.
Ia adalah investasi jangka panjang terhadap kualitas pelaku industri pasar modal.
Semangat yang dibawa PROPAMI melalui PPL ini adalah semangat menjaga keseimbangan antara pengetahuan teknis dan kedewasaan moral.
Dengan tantangan yang terus berubah, para pemegang izin seperti WPPE dan WPEE dituntut untuk selalu satu langkah di depan.
Bukan hanya agar bisa bertahan, tapi agar bisa memimpin perubahan.
Sebagaimana kata pepatah investasi, “Pasar boleh naik-turun, tapi kompetensi harus konsisten naik.” Dan pelatihan ini, adalah salah satu cara menjaganya tetap tinggi.


