AJIMARTONO.COM – Setiap Idul Adha, umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali pada satu kisah yang tak lekang oleh waktu: Ibrahim dan Ismail.
Sebuah narasi ketundukan total, pengorbanan tertinggi, dan keberanian manusia dalam menjawab panggilan langit.
Namun dalam keheningan gema takbir yang berkumandang tahun ini, saya mencoba menggali makna lain dari kisah itu.
Bukan sekadar prosesi kurban yang meriah dengan sapi dan kambing, tapi pada dimensi moral, sosial, dan spiritual yang lebih dalam.
Seolah Tuhan tengah mengingatkan kita: bangsa yang besar harus dibangun di atas dasar ketulusan, bukan kemewahan semata.
Antara Perintah dan Kepemimpinan
Ibrahim tidak diperintah untuk membunuh. Ia diminta untuk menunjukkan kesediaan mengorbankan yang paling dicintainya โ Ismail.
Sementara Ismail, yang dalam usia belia bersedia menjadi bagian dari ujian itu, menunjukkan bahwa pemuda pun bisa punya kedewasaan spiritual yang melampaui usianya.
Dalam konteks bangsa, kisah ini mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan mendengar suara nurani dan melibatkan keluarga serta generasi muda dalam perjalanan nilai.
Ibrahim adalah pemimpin keluarga, sekaligus pemimpin masyarakat. Ismail adalah simbol generasi penerus yang patuh tapi sadar. Ini bukan kepatuhan buta โ ini kolaborasi spiritual.
Kurban dan Ketimpangan Sosial
Setiap Idul Adha, kita saksikan ribuan hewan dipotong. Namun, di sisi lain, masih banyak masyarakat yang โterpotongโ aksesnya terhadap pendidikan, kesehatan, hingga pekerjaan layak.
Maka, kurban sejatinya bukan hanya simbol ibadah, tetapi pengingat tentang distribusi kesejahteraan yang adil.
Apakah kita sudah cukup berkurban untuk mewujudkan keadilan sosial?
Apakah para pemimpin negeri ini bersedia โmengorbankanโ kepentingan jangka pendek demi masa depan rakyatnya?
Idul Adha di Tengah Tahun Politik
Tahun 2025 adalah tahun penuh dinamika. Pemerintah baru yang sudah dilantik. Suhu politik perlahan menurun, tapi ekspektasi rakyat kian tinggi.
Maka refleksi kurban tahun ini penting: apakah kepemimpinan nasional ke depan siap mewarisi semangat Ibrahim dan Ismail?
Siap berkorban untuk negeri, bukan menjadikan negeri sebagai korban ambisi.
Saya percaya, seperti halnya Ibrahim, setiap pemimpin punya peluang untuk menang dalam ujian.
Namun yang membedakan adalah: apakah ia berjalan sendirian, atau bersama generasi Ismail yang siap menanggung beban sejarah.
Sebait Harapan
Sebagai insan yang berkecimpung dalam dunia kompetensi dan pendidikan, saya meyakini bahwa pengorbanan terbesar hari ini bukan lagi menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego, kemalasan, dan kesenjangan berpikir.
Semoga Idul Adha 2025 menjadi titik balik. Bahwa bangsa ini tidak hanya besar karena jumlah kurbannya, tapi karena kesanggupan tiap warga dan pemimpinnya untuk menjadikan nilai-nilai kurban sebagai gaya hidup kolektif.
Selamat Idul Adha. Mari kembali pada nilai. Mari kembali pada akhlak.
Jakarta, 9 Dzulhijjah 1446 H
NS. Aji Martono
Komisioner BNSP & Ketua Umum PROPAMI





