DALAM dunia keuangan yang berubah cepat, standar kompetensi kerja tidak boleh ketinggalan zaman.
Hal inilah yang menjadi semangat utama Workshop Penyusunan dan Kaji Ulang SKKNI Bidang Treasury, yang digelar oleh Bank Indonesia (BI) di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, pada 9–11 Juli 2025.
Acara ini mempertemukan aktor-aktor kunci: dari pelaku industri, asosiasi, akademisi, hingga regulator seperti OJK dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker RI), Yogyakarta (11/07/25)
Salah satu narasumber utama dalam forum ini adalah NS Aji Martono, Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), yang dikenal vokal memperjuangkan kesesuaian antara kebutuhan industri dan relevansi kompetensi kerja.
Kompetensi Tidak Bisa Mandek
Dalam paparannya, Aji menekankan bahwa standar kompetensi tidak bisa bersifat statis.
Dinamika global, digitalisasi sistem keuangan, dan tuntutan efisiensi mengharuskan SKKNI—terutama di bidang treasury—untuk terus dikaji, diperbarui, dan dipastikan aplikatif di lapangan.
“Standar kompetensi adalah jembatan antara dunia kerja dan dunia pendidikan. Kalau jembatannya rapuh, maka transisinya akan timpang,” ujar Aji lugas.
Ia menambahkan, pembaruan ini bukan semata demi kelengkapan dokumen, tetapi untuk menjamin hadirnya tenaga kerja profesional yang relevan dan siap pakai.
Tiga Tujuan Strategis: Relevansi, Kualitas, dan Implementasi
Workshop ini memiliki tiga tujuan strategis:
-
Mengembangkan standar kompetensi baru yang mencerminkan dinamika sektor treasury dan praktik terbaik di industri.
-
Memperbarui standar yang ada agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar kerja terkini.
-
Meningkatkan kualitas tenaga kerja, melalui sertifikasi kompetensi berbasis SKKNI yang sahih, aplikatif, dan dapat diintegrasikan ke dalam program pelatihan dan asesmen formal.
Hasil dari forum ini akan menjadi landasan untuk membentuk kerangka kerja pengembangan pelatihan dan asesmen yang lebih tajam dan responsif terhadap tuntutan sektor treasury nasional.
Kolaborasi Adalah Kunci
Forum ini menjadi ruang yang terbuka dan cair—para peserta aktif berdiskusi, menyampaikan tantangan lapangan, dan berbagi pengalaman.
Kehadiran Satker BI, OJK, Kemnaker, akademisi, dan pelaku industri membuat pembahasan menjadi kaya perspektif.
Menurut Aji, penyusunan SKKNI harus bersandar pada kolaborasi yang jujur.
“Kalau semua bicara sesuai porsinya, maka kita bisa melahirkan standar yang benar-benar membumi, bukan hanya administratif di atas kertas,” katanya di sela diskusi malam hari di serambi hotel.
Mewujudkan SDM Treasury yang Andal dan Tersertifikasi
Dengan pembaruan SKKNI ini, diharapkan lahir SDM treasury yang tidak hanya paham teori, tetapi juga piawai praktik.
BNSP bersama pemangku kepentingan lain juga mendorong hadirnya LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) khusus bidang treasury, yang fokus pada pelaksanaan asesmen sesuai dengan skema yang disepakati industri.
“Kita tidak bisa menunda pembaruan kompetensi. Kita juga tidak boleh lelah mencintai negeri ini dengan cara yang paling nyata: mempersiapkan generasi kerja yang kompeten dan berdaya saing,” tutup Aji, menyampaikan harapannya dengan semangat khasnya yang bersahaja namun bernas.







