Memotret Strategi Ekonomi dan SDM dalam Rapat ISEI: Menyulam Masa Depan Indonesia dari Sertifikasi hingga Inovasi

Memotret Strategi Ekonomi dan SDM dalam Rapat ISEI: Menyulam Masa Depan Indonesia dari Sertifikasi hingga Inovasi

AJIMARTONO.COM – Diskusi tak lagi cukup dengan presentasi panjang dan jargon kosong.

Dalam rapat virtual Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) pada 4 Juni 2025, perbincangan melompat dari neraca fiskal ke laboratorium pelatihan kerja, dari ruang kelas kampus ke ruang trading saham.

Bacaan Lainnya

Rapat daring itu menjadi arena silang pendapat dan ide, dihadiri tokoh-tokoh penting seperti Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu, ekonom senior Prof. M. Ikhsan dari Universitas Indonesia, Rektor Universitas Bengkulu Dr. Retno Agustina, Komisaris Bank Ganesha Lisawati, serta NS Aji Martono, Komisioner BNSP dan anggota aktif ISEI.

Sorotan utama tertuju pada isu-isu strategis di bidang ekonomi nasional yang kian kompleks: dari pergeseran arah belanja pemerintah, tantangan stabilitas harga, hingga kebutuhan mendesak akan kualitas SDM yang selaras dengan industri.

Dalam atmosfer yang kondusif namun tajam, para peserta tak hanya mengeluhkan, mereka juga menyodorkan jawaban.

Ketimpangan, Bonus Demografi, dan Sertifikasi

Ekonom M. Ikhsan, yang sejak lama dikenal kritis terhadap pendekatan makro yang tak menyentuh akar persoalan, menggarisbawahi soal ketimpangan kompetensi di lapangan kerja.

“Bonus demografi tidak akan menjadi keuntungan jika tidak kita kelola dengan pendekatan berbasis keterampilan dan rekognisi kompetensi,” katanya.

Pernyataan itu seolah disambut oleh NS Aji Martono, yang mewakili BNSP dalam forum tersebut. Ia menekankan pentingnya memperluas cakupan sertifikasi sebagai alat ukur objektif dalam sistem ketenagakerjaan nasional.

Aji menjelaskan bahwa tanpa validasi keterampilan yang jelas, baik lulusan vokasi maupun profesional berpengalaman bisa tersisih hanya karena tidak memiliki pengakuan kompetensi formal.

“Pasar kerja tidak bisa hanya mengandalkan ijazah akademik. Kita perlu jembatan yang konkret: sertifikasi yang kredibel,” ucap Aji.

Lisawati dari Bank Ganesha turut menambahkan bahwa dunia perbankan kini lebih terbuka terhadap talenta non-tradisional, selama memiliki bukti kompetensi.

Ia menyarankan adanya ekosistem yang mendukung “reskilling” dan “upskilling” dengan insentif fiskal dari negara.

Riset Ekonomi: Masih Elitis?

Di tengah diskusi teknokratik itu, Retno Agustina membawa pandangan dari kampus daerah.

Ia menyoroti masih minimnya jembatan antara riset ekonomi dan kebutuhan lokal.

“Terlalu banyak hasil penelitian berhenti di seminar dan jurnal. Padahal daerah membutuhkan model ekonomi yang bisa dipraktikkan,” tegas Retno.

Ia mengusulkan adanya skema insentif penelitian terapan di daerah, yang melibatkan mahasiswa dan pelaku usaha lokal.

Usulan ini dianggap segar karena mendorong sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan realitas ekonomi mikro yang selama ini terabaikan oleh pendekatan sentralistik.

Anggito Abimanyu merespons dengan pragmatis.

“Desentralisasi fiskal harus diikuti oleh desentralisasi kecerdasan ekonomi,” ujarnya.

Ia mendorong lembaga seperti ISEI menjadi simpul penghubung antaraktor: pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan kampus.

ISEI: Bukan Klub Elit, Tapi Laboratorium Solusi

Diskusi ini memperlihatkan wajah ISEI yang tak ingin terjebak menjadi “klub alumni kampus ekonomi ternama” semata.

Format daring kali ini justru membuka partisipasi lintas wilayah dan lintas generasi.

Ada semangat untuk memproduksi bukan hanya gagasan, tapi juga skema kebijakan konkret yang bisa diadopsi langsung oleh pengambil keputusan.

ISEI juga ditantang untuk memosisikan diri di tengah derasnya dinamika teknologi dan ekonomi digital.

Tidak lagi cukup bicara supply-demand klasik, tapi juga tentang bagaimana membentuk ekosistem pembelajaran yang adaptif, berbasis data, dan responsif terhadap kebutuhan sektor-sektor strategis.

Refleksi dan Arah ke Depan

Rapat ISEI ini barangkali tidak akan langsung mengubah postur APBN atau membuat sistem sertifikasi otomatis berjalan di semua sektor.

Tapi rapat ini mencerminkan arah baru: keberanian mengakui tantangan struktural dan ketulusan mencari solusi kolaboratif.

Dari ruang virtual, lahir kesepahaman bahwa ekonomi tidak bisa dikelola hanya lewat angka.

Ia harus dipandu oleh etos kompetensi, kepemimpinan yang meritokratis, serta kebijakan yang berpihak pada masa depan.

Bagi ISEI, tantangannya kini bukan hanya menjaga tradisi intelektual, tapi juga menjadi simpul penggerak perubahan.

Bukan sekadar membahas ekonomi, tapi ikut menulis ulang skenarionya—dengan satu prinsip utama: SDM unggul bukan warisan, tapi hasil kerja bersama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses