MENGAWASI MANIPULASI, BUKAN MENGHUKUM KENAIKAN

MENGAWASI MANIPULASI, BUKAN MENGHUKUM KENAIKAN
Foto : Budi Frensidy – Guru Besar FEB UI. (Doc.Ist)

AjiMartono.com – Menteri Keuangan RI mengeluhkan saham gorengan dan mendorong bursa membersihkan praktik yang merugikan investor ritel. Niatnya baik dan patut diapresiasi.

Integritas pasar adalah prasyarat kepercayaan. Namun istilah saham gorengan bermasalah karena bukan terminologi baku di pasar modal.

Bacaan Lainnya

Istilah yang lebih tepat dan dikenal luas adalah manipulasi pasar, yaitu perilaku yang sengaja mendistorsi harga atau volume agar pihak lain mengambil keputusan berdasarkan sinyal yang menyesatkan.

Jadi persoalannya bukan pada saham gorengan, melainkan tindakan manipulatif yang merusak proses pembentukan harga.

Ketika istilah kabur, kebijakan mudah salah arah. Terlalu sering yang disasar adalah harga yang naik, bukan perilaku yang memanipulasi. Padahal kenaikan harga saham bisa lahir dari dua dunia yang sangat berbeda.

Dunia pertama adalah manipulasi dengan menciptakan ilusi permintaan, membangun narasi, lalu melepas kepemilikan ketika minat publik memuncak.

Dunia kedua adalah strategi membangun kelayakan investasi (investability) melalui peningkatan likuiditas, pengelolaan free float (porsi saham publik) yang efektif, dan perluasan basis investor.

Tujuannya agar saham layak masuk radar investor institusi global. Di sinilah istilah MSCI play muncul dan sering disalahpahami.

Manipulasi sejatinya tidak hanya terjadi saat harga naik. Saat harga turun pun ada pola yang sama manipulatifnya, hanya arahnya berlawanan. Pelaku bisa mengambil posisi jual (short) terlebih dahulu, lalu menyebarkan rumor negatif, berita palsu, atau menebar ketakutan agar harga jatuh tajam.

Setelah harga tertekan dalam, mereka menutup posisi jualnya dan melakukan akumulasi di level bawah. Ini dikenal sebagai short and distort, kebalikan dari pump and dump. Ada pula shakeout, yaitu taktik menekan harga untuk mengguncang pemegang lemah, memaksa investor ritel yang mudah panik menjual.

Pola-pola ini menguatkan satu pesan. Bila pengawasan hanya respons saat harga naik, pasar akan belajar bahwa sisi turunnya boleh dimainkan lebih bebas.

Dalam MSCI play, investor berharap sebuah saham masuk indeks global sehingga dapat menarik dana pasif, termasuk ETF (exchange traded fund), milik institusi global. Saat itu terjadi, permintaan besar bisa muncul bukan karena euforia, melainkan karena mandat indeks.

Bagi sebagian konglomerat, MSCI play bukan skema pump and dump, melainkan strategi jangka menengah agar sahamnya layak beli di mata investor global. Ini menjadi mungkin jika likuiditas terjaga, volatilitas terkendali, arus transaksi wajar, serta syarat kapitalisasi pasar terpenuhi.

Di titik ini, peran liquidity provider menjadi penting secara ekonomi, sepanjang bekerja dalam koridor aturan. Pasar yang likuid mengurangi price impact dari transaksi besar, menurunkan spread, dan memberi kenyamanan bagi investor institusi. Saham-saham yang likuid dan stabil dapat menjadi jangkar indeks, menjaga sentimen, dan membantu memperbaiki persepsi di mata investor asing. Pintu masuk investor global menjadi lebih terbuka. Ini mekanika pasar.

Untuk emiten, likuiditas bukan sekadar gengsi harga, melainkan biaya modal. Saham yang likuid dan stabil memudahkan korporasi melakukan right issue, menerbitkan obligasi konversi, atau aksi korporasi lain.

Sebaliknya, ketika saham mudah disuspensi saat sedang naik, risiko likuiditas membesar dan premi risiko ikut naik. Pada akhirnya emiten dan investor jangka panjang yang membayar biayanya.

Masalahnya, niat baik membangun likuiditas sering ditabrak kebijakan yang terasa asimetris. Saham yang naik cepat lebih mudah disuspensi, sementara saham yang turun tajam umumnya dibiarkan mengalir dengan dalih mekanisme pasar.

Kita paham alasan formal suspensi: memberi waktu investor mencerna informasi. Namun dari perspektif keadilan pasar, pesan yang tertangkap bisa berbeda. Kalau harga naik, Anda dihukum. Kalau harga turun, itu urusan Anda.

Suspensi dan FCA menghilangkan likuiditas seketika dan memutus proses penemuan harga. Emiten pun dirugikan karena upaya memperbaiki investability diperlakukan seperti pelanggaran hanya karena harga naik.

Kita tidak menolak pengawasan. Pengawasan yang tepat sasaran memang diperlukan. Peringatan seperti UMA dapat berguna karena mendorong kewaspadaan dan memperkuat kebutuhan keterbukaan informasi.

Tetapi suspensi yang terlalu cepat, terlalu sering, dan terasa hanya saat harga saham naik menciptakan insentif buruk. Emiten dan investor belajar bahwa kenaikan tidak dihargai, sementara penurunan dibiarkan menjadi sekolah gratis yang mahal.

Jika otoritas ingin menjaga integritas tanpa mematikan likuiditas, obatnya bukan menahan harga yang naik, melainkan memperjelas aturan permainan. Kriterianya harus tegas mana manipulasi dan mana yang bukan.

Bila perlu cooling off, lakukan lebih simetris dan berbasis data, bukan sekadar menghukum kenaikan.

MSCI play yang sehat sesungguhnya membantu bursa dan indeks. Likuiditas meningkat, basis investor lebih luas, dan makin banyak saham menjadi investable di tingkat global. Itu dapat menopang indeks dan mendorong arus masuk dana.

Namun kebijakan yang ada tanpa sadar mengirim sinyal: pasar boleh turun bebas, tetapi tidak boleh naik terlalu cepat. Jika sinyal ini terus dipertahankan, bagaimana kita berharap investor asing maupun domestik percaya bahwa pasar kita adil dan menarik untuk berinvestasi?

Kalau tujuan kita adalah pasar yang dalam, likuid, dan dipercaya, pertanyaannya sederhana. Kita mau memburu saham gorengan yang definisinya kabur, atau memburu perilaku manipulatif tanpa mematikan upaya emiten yang sedang naik kelas?


Oleh : Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses