PARADOKS BEI: SAHAM BAGUS SEPI, SAHAM RAMAI DICURIGAI

PARADOKS BEI: SAHAM BAGUS SEPI, SAHAM RAMAI DICURIGAI
Foto : Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI. (doc.ist)

Ajimartono.com – Di bursa kita, logika sering terbalik. Saham yang sepi dianggap aman, sementara saham yang ramai dan likuid cepat dicurigai. Begitu ada saham melesat disertai antrean tebal, label β€œgorengan” mudah keluar, seolah kenaikan harga identik dengan manipulasi.

Stigma ini cukup sering menempel pada saham kelompok usaha besar, padahal banyak di antaranya tidak melakukan pump-and-dump. Investor ritel justru bisa meraih cuan dan keluar-masuk posisi dengan biaya transaksi lebih efisien karena likuiditasnya terbentuk.

Bacaan Lainnya

Mengapa saham konglomerasi kerap dicurigai? Ada beberapa alasan yang mudah dipahami. Pertama, struktur kepemilikan grup besar sering dianggap terlalu terkonsentrasi sehingga free float tampak kecil walaupun umumnya sudah belasan persen atau lebih.

Kedua, aksi korporasi grup ini kadang dicap hanya menguntungkan segelintir pihak, meskipun pemegang sahamnya sampai puluhan ribu orang. Ketiga, antrean tebal sering diasosiasikan dengan rekayasa, padahal bisa lahir dari minat beli yang nyata, berulang, dan terukur.

Pasar modal tidak boleh menyamakan gejala dengan penyakit. Kenaikan harga akibat permintaan riil berbeda dengan kenaikan yang direkayasa. Yang harus diburu adalah perilaku manipulatif: transaksi semu, cornering, spoofing, atau penyebaran informasi menyesatkan untuk menggerakkan harga.

Jika itu terjadi, penindakan harus tegas. Tetapi bila transaksi berlangsung wajar, keterbukaan terpenuhi, dan tidak ada indikasi rekayasa, stigma gorengan justru menjadi bumerang karena menambah ketidakpastian kebijakan dan merusak kepercayaan.

Variabel lain yang kerap luput adalah peran indeks global seperti MSCI dan FTSE. Saat sebuah saham masuk, atau berpotensi masuk, permintaannya tidak lagi hanya datang dari pelaku lokal. Ada arus pembelian dana pasif yang mengikuti mandat indeks. Arus ini menambah kedalaman order book, memperketat spread, dan membuat likuiditas lebih stabil.

Kontrasnya terlihat pada saham yang fundamentalnya kerap dipuji, tetapi harganya sulit bergerak. Inilah paradoks likuiditas. Tanpa liquidity provider atau market maker, antrean tetap tipis.

Investor institusi enggan masuk karena biaya transaksi tinggi serta risiko sulit keluar saat dibutuhkan. Akibatnya, valuasi rendah bisa tertahan lama bukan karena bisnisnya buruk, melainkan karena sahamnya tidak likuid.

Kita lalu terjebak pada narasi keliru. Saham likuid dianggap spekulatif, sementara saham sepi dianggap berkualitas. Padahal kualitas bisnis dan kualitas pasar (likuiditas) adalah dua hal berbeda.

Di titik inilah regulator perlu menata ulang cara pandang. Pasar yang sehat bukan pasar yang semua sahamnya sunyi agar tampak aman, melainkan pasar yang ramai tetapi tertib. Tertib berarti transparan.

Pemilik manfaat jelas, keterbukaan konsisten, free float memadai, dan perlindungan investor minoritas kuat. Ramai berarti likuiditas terbentuk secara wajar, bukan hasil rekayasa.

Market making tidak identik dengan manipulasi. Market maker dapat diwajibkan memasang kuotasi dua sisi, ukuran minimal, batas spread, dan kehadiran berkelanjutan. Insentifnya bisa berupa potongan biaya transaksi yang transparan.

Dengan pengawasan berbasis data, otoritas dapat membedakan pembentukan likuiditas dari praktik manipulatif. Pendekatan ini membantu saham berfundamental baik yang selama ini terdiskon karena sepi memperoleh penopang likuiditas sehingga valuasinya lebih adil dan akses pendanaan emiten membaik.

Regulator wajib melindungi investor ritel, tetapi perlindungan tidak identik dengan memusuhi kelompok saham tertentu. Jika ada saham yang memenuhi kriteria indeks global dan menarik arus dana pasif, itu sinyal bahwa likuiditas dan visibilitas pasar kita bekerja.

Tugas otoritas adalah memastikan pengakuan tersebut dijaga oleh tata kelola, bukan dibeli melalui manipulasi.

Penopang IHSG

Karena itu, regulator semestinya mendorong saham-saham yang kenaikan harganya dapat dipertahankan bertahun-tahun, bukan langsung dicurigai hanya karena pergerakannya atraktif. Saham-saham seperti inilah yang berpeluang masuk indeks global, menopang IHSG, meningkatkan kapitalisasi pasar, serta memperkuat daya tarik Indonesia di mata investor global. Ketika kapitalisasi dan likuiditas menguat, pintu arus dana asing, terutama dana pasif dan ETF, akan lebih terbuka.

Kita dapat belajar dari India. Dalam MSCI Emerging Markets (EM) Index per 30 Januari 2026, bobot India 13,34% dan Indonesia sekitar 1%. Dengan asumsi sekitar USD 1,4 triliun aset dikelola mengikuti/menjadikan indeks MSCI EM sebagai benchmark (data MSCI per Oktober 2025), maka eksposur dana terhadap India kira-kira USD 187 miliar dan terhadap Indonesia sekitar USD 14 miliar.

Di sisi cakupan, MSCI India mencakup 663 saham dan MSCI Indonesia 74 saham. Likuiditas pasar India pun jauh lebih tebal dengan rata-rata nilai transaksi harian sekitar β‚Ή1,13 lakh crore pada 2024–2025 atau Rp210 triliun, sementara transaksi harian BEI sepanjang 2025 di kisaran Rp18 triliun.

Nilai transaksi harian bergerak searah dengan jumlah saham yang lolos ke MSCI, bobot Indonesia di MSCI, dan pada akhirnya besarnya eksposur dana pasif. Perbedaan ini bukan semata ukuran ekonomi, tetapi kedalaman pasar dan konsistensi kebijakan yang menumbuhkan kepercayaan jangka panjang.

Terakhir, yang sering dilupakan: keuntungan yang konsisten adalah insentif utama yang menjaga partisipasi investor, memperdalam pasar domestik, dan membantu pembiayaan ekonomi nasional. Tanpa potensi imbal hasil yang memadai, investor akan menahan diri untuk bertransaksi dan berinvestasi saham. Transaksi harian menurun, likuiditas melemah, dan arus dana asing berkurang. Apakah itu arah yang ingin kita tuju?


Oleh : Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses