Richer Versus Faster Richer : Perhitungan Kalkulus di Balik Investasi

Richer Versus Faster Richer : Perhitungan Kalkulus di Balik Investasi
Foto : Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI. (doc.ist)

AjiMartono.Com – Anda tentu pernah mendengar ungkapan The rich get richer and the poor get poorer. Dalam perjalanannya, ungkapan itu sering โ€œnaik kelasโ€ menjadi The rich get faster richer. Yang kaya bukan hanya makin kaya, tetapi makin cepat kaya.

Kedengarannya seperti permainan kata. Padahal, bedanya sangat teknis dan sangat penting. Perbedaannya pada kalkulus dasar, yaitu turunan pertama dan turunan kedua.

Pertanyaan, โ€œApa beda richer dan faster richer?โ€ saya jadikan salah satu soal ujian akhir semester Ekonomi Manajerial di Pascasarjana Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) bulan Desember ini.

Saya memberikan petunjuk, jawabannya sekitar kalkulus. Mengapa? Karena ungkapan makin kaya berbicara arah pergerakan kekayaan. Sedangkan makin cepat kaya berbicara tentang percepatan pergerakannya.

Dalam bahasa kalkulus, โ€œyang kaya semakin kayaโ€ berarti turunan pertama fungsi kekayaan terhadap waktu bernilai positif. Kekayaan naik dari waktu ke waktu. Tetapi ungkapan itu tidak mengatakan apa-apa tentang turunan kedua. Turunan kedua bisa nol, negatif atau positif.

Sementara โ€œyang kaya semakin lebih cepat kayaโ€ berarti dua hal sekaligus. Turunan pertama positif dan turunan kedua juga positif. Kekayaan bukan hanya naik, tetapi kenaikannya ikut membesar dari waktu ke waktu.

Ambil contoh sederhana. Deret kekayaan Rp 100 juta, Rp 120 juta, Rp 140 juta, Rp 160 juta menunjukkan turunan pertama positif karena nilainya naik terus. Grafiknya linear. Namun turunan keduanya nol karena kenaikannya stagnan. Setiap tahun naik Rp 20 juta. Kekayaannya bertambah, tetapi kecepatannya tidak bertambah.

Contoh lain Rp 100 juta, Rp 120 juta, Rp 137 juta, Rp 150 juta. Turunan pertama masih positif karena nilainya tetap naik. Namun, turunan kedua negatif karena kenaikannya makin kecil. Dari Rp 20 juta turun menjadi Rp 17 juta lalu Rp 13 juta. Ini analog dengan the law of diminishing utility, yaitu utilitas yang terus bertambah, tetapi tambahannya makin mengecil.

Sekarang contoh faster richer yaitu Rp 100 juta, Rp 120 juta, Rp 145 juta dan Rp 180 juta. Turunan pertama positif dan turunan kedua juga positif karena kenaikannya membesar. Dari Rp 20 juta lalu Rp 25 juta dan kemudian Rp 35 juta. Di sinilah akselerasi kekayaan terjadi. Bukan sekadar bertumbuh, tetapi bertumbuh dengan percepatan.

Fenomena ini bukan teori di kelas semata. Ini kita lihat pada kelompok orang yang sangat kaya. Di masa lalu, kekayaan ratusan miliar dolar Amerika Serikat (AS) terdengar mustahil. Hari ini, angka-angka itu menjadi berita rutin. Yang lebih penting bukan hanya level kekayaan, tapi pola pertumbuhannya.

Dulu kekayaan ratusan miliar dolar AS mustahil. Sekarang berita rutin.

Target dobel dalam 5 tahun-6 tahun bergeser menjadi 3 tahun-4 tahun, bahkan 2 tahun-3 tahun bagi sebagian. Artinya, mereka bukan hanya richer, melainkan faster richer.

Lalu apa relevansinya bagi investor biasa? Sangat relevan. Dunia investasi, tanpa kita sadari, penuh kalkulus. Di antaranya, durasi dan konveksitas dalam obligasi serta delta dan gamma dalam opsi.

Tapi aplikasi paling membumi, return nominal investasi adalah turunan pertama nilai investasi terhadap waktu. Sedangkan pertumbuhan return nominal adalah turunan kedua.

Di sini strategi investasi menjadi lebih jernih. Return nominal positif adalah syarat perlu. Return aset bisa negatif jelas harus dihindari, kecuali Anda senang berspekulasi. Namun syarat perlu saja tidak cukup. Banyak aset bisa memberi return positif. Tapi tidak banyak yang return-nya tumbuh, alias punya turunan kedua positif.

Investor sering puas melihat grafik naik. Padahal yang lebih menentukan, apakah kenaikan itu menguat atau justru melemah. Aset yang harganya bergerak Rp 1.000, Rp 1.200, Rp 2.000, Rp 3.000 memberi pesan berbeda dari Rp 1.000, Rp 1.200, Rp 1.350, Rp 1.450. Keduanya naik. Tapi yang pertama berakselerasi dan kedua sedang melambat.

Investor yang hanya melihat turunan pertama akan mengira keduanya sama bagus. Investor yang peka terhadap turunan kedua akan membaca perbedaannya sejak dini.

Dalam praktik, aset yang menunjukkan turunan kedua positif sering terlihat pada saham-saham tertentu yang harganya melesat berjenjang, bukan sekadar merambat. Di sini perlu kehati-hatian. Ada saham yang melesat karena kinerja dan prospek, dan ada juga yang terlihat melesat karena likuiditas tipis dan kepemilikan terkonsentrasi.

Bagaimana dengan properti? Literatur investasi klasik sering menganggap properti sebagai aset yang cenderung naik. Di Indonesia, tanah dan rumah investasi punya turunan pertama positif dalam jangka panjang. Mengingat permintaan bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Tapi turunan pertama positif tidak otomatis berarti paling menguntungkan.

Pertanyaan kuncinya tetap sama: apakah pertumbuhan return (turunan kedua) masih positif? Strategi yang lebih tepat adalah memegang aset selama masih berakselerasi. Melepasnya ketika akselerasi itu hilang.

Dalam bahasa sederhana, pegang selama pertumbuhan return masih positif dan jual ketika pertumbuhan return menjadi negatif. Aturan praktisnya, jika return tahunan tanah dan rumah investasi (kenaikan harga plus sewa bersih) hanya setara inflasi atau lebih rendah, artinya mesin pertumbuhan sudah melemah. Saat itu Anda perlu mempertimbangkan keluar atau mengalihkan ke aset lain yang mesin return masih hidup.

Pada akhirnya, investasi bukan sekadar mencari aset yang harganya naik harganya. Itu pekerjaan semua orang. Tantangan investor yang lihai lebih kepada mencari aset yang kenaikannya masih menguat dan mempunyai disiplin untuk keluar ketika kenaikannya mulai melambat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses