Oleh : Budi Frensidy β Guru Besar FEB UI
SETELAH sempat bersandar di bawah 7.000 pada Juni dan Juli lalu, IHSG akhirnya tembus 8.000 dan bertengger di 8.061 pada 30 September 2025.
Di tengah maraknya investor asing keluar dari pasar keuangan kita dan melemahnya rupiah, IHSG mencetak rekor baru.
Hingga 25 September 2025 year to date, investor asing sudah keluar Rp51,34 triliun dari pasar saham, Rp128,85 triliun dari pasar SRBI, dan Rp36,25 triliun dari pasar SBN.
Rupiah yang mulai berada di kisaran Rp16.000 per dolar AS Desember lalu pun terus terdepresiasi di tahun ini.
Sangat jarang kita menyaksikan IHSG dapat menguat saat rupiah loyo dan investor asing marak keluar (net sell).
Anehnya, indeks justru menembus all time high. IHSG menguat 16,4% selama Juli-September 2025 dari 6.928 menjadi 8.061.
Kinerja bagus ini telah membalikkan indeks yang masih negatif hingga semester pertama tahun ini menjadi positif 13,9% ytd.
Sebagai investor saham, apakah keuntungan Anda sebesar ini juga?
Silakan periksa portofolio Anda. Jangan sedih dan kecewa jika return Anda di bawah IHSG atau bahkan masih rugi.
Banyak investor lain pun bernasib sama. IHSG memang sudah naik 981 poin dari 7.080 di awal tahun menjadi 8.061 akhir September lalu.
Tetapi yang menyumbang kenaikan sebesar ini hanya segelintir saham.
Sepuluh saham penggerak utama IHSG telah menyumbang 1.076 poin.
Jika kenaikan harga sepuluh saham ini tidak dihitung, IHSG di 30 September masih 6.985 atau minus 1,34%.
Tiga saham penggerak terbesar bahkan menyumbang 721 poin atau 73% kenaikan indeks.
IHSG sejatinya hanya 7.340 tanpa menghitung kenaikan harga saham DCII, DSAA, dan BRPT.
Sepanjang tahun ini, DCII terbang 550% (dari Rp42.100 menjadi Rp273.650) dan menyumbang 278 poin IHSG, sementara DSSA naik 187% menjadi Rp106.200 dengan sumbangan 267 poin, dan BRPT meroket 308% dengan 176 poin.
Ketujuh saham penggerak IHSG lainnya adalah BRMS, TLKM, MLPT, ASII, CDIA, BNLI, dan ANTM.
Masing-masing berkontribusi 63 poin hingga 37 poin IHSG.
Jika portofolio Anda berisi beberapa dari 10 saham penggerak IHSG, keuntungan Anda mestinya lumayan.
Kecuali saham DCII, DSSA, MLPT, dan BNLI, enam saham lainnya dimiliki puluhan ribu investor atau lebih.
Sebaliknya, hasil investasi Anda akan di bawah pasar jika sepuluh saham di atas tidak ada sama sekali dalam portofolio Anda.
Bahkan mungkin saja Anda masih rugi karena memegang saham-saham penggerus indeks yaitu saham-saham yang berkontribusi negatif paling besar terhadap IHSG.
Saham-saham pemberat IHSG ini dipimpin BBCA dan BMRI. BBCA merosot 21% dari Rp9.675 menjadi Rp7.625 sementara BMRI jatuh 23% dari Rp5.700 ke Rp4.400. Bukannya menaikkan IHSG, keduanya membebankan IHSG 123 poin dan 74 poin masing-masing.
Jika kedua saham itu dikecualikan, IHSG akan 197 poin lebih tinggi.
Saham-saham pemberat berikutnya adalah AMMN, AMRT, GOTO, BYAN, ADRO, MAPA, MEGA, dan ICBP dengan minus 41 poin hingga minus 9 poin.
Seluruh 10 saham tersebut menyeret IHSG 386 poin ke bawah.
Jika returninvestor ritel ytd tergantung pada ada atau tidaknya saham-saham penggerak dan pemberat di masing-masing portofolionya, bagaimana dengan kinerja investor institusi seperti dana pensiun, manajer investasi, dan perusahaan asuransi?
Berbeda dengan investor ritel yang boleh memegang hanya beberapa saham atau menerapkan strategi fokus, investor institusi hampir pasti melakukan diversifikasi dengan memegang belasan saham atau lebih.
Saham-saham yang ada dalam keranjang investasinya biasanya saham-saham berfundamental bagus yaitu saham-saham penghuni indeks LQ-45 atau IDX 30.
Kita ketahui bersama, hanya saham-saham pilihan dengan transaksi harian cukup besar, berkapitalisasi pasar di atas rata-rata, dan dipegang belasan ribu atau lebih investor yang bisa masuk dalam dua indeks acuan itu.
Saham DCII, MLPT, DSSA, dan BNLI, dugaan saya, tidak banyak dipegang investor institusi. Ini karena hanya ada 976 investor yang memiliki saham DCII, 1.453 investor saham MLPT, 4.579 investor DSSA, dan 8.345 investor BNLI per 31 Agustus 2025.
Wajar saja jika keempat saham itu bersama BRMS dan CDIA tidak masuk dalam IDX30 dan LQ45.
Hanya 4 saham dari 10 saham penggerak (40%) yang masuk dalam kedua indeks itu yaitu BRPT, TLKM, ASII, dan ANTM.
Sementara 8 dari 10 saham pemberat (80%) malah ada dalam indeks LQ45 dan 6 saham (60%) ada dalam indeks IDX30.
Karenanya, jangan kaget jika kinerja investor institusi rata-rata di bawah return IHSG.
Selama masih positif, kita harus tetap mengapresiasi karena indeks LQ45 merosot 3,99%Β dari 827 di awal tahun menjadi 794 pada 30 September lalu.
Demikian pula indeks IDX30 yang melorot 2,6% dari 423 menjadi 412. Dua pelajaran dari kisah IHSG ini.
Pertama, return investasi dalam saham-saham blue chips kalah dari IHSG.
Kedua, tanpa βdiselamatkanβ beberapa saham penggerak milik konglomerat, IHSG di September lalu mungkin masih terkapar negatif seperti indeks LQ45 dan IDX30.








