AjiMartono.com – Hari kerja penutup pekan ini, meski kena lower-back pain, bertemu dan berbagi dengan para pendamping Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) untuk wilayah DKI Jakarta.
Paparan yang singkat tentang pelaporan keuangan dan perpajakan bagi koperasi terasa sangat singkat.
Tapi ada satu pesan yang tertangkap, peran mereka akan sangat besar mengawal suksesnya program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Kenapa peran mereka besar, atau bahkan kalau saya boleh bilang berat? Sebetulnya bukan hanya koperasi, tapi banyak korporasi yang di laporan laba ruginya terlihat baik-baik saja tapi menyimpan masalah cash flow. Betul cash flow!
KDKMP yang sebagian bisnisnya diarahkan serupa dengan bisnis usaha mikro (baca: rumahan) dan peritel mapan, berisiko kesulitan likuiditas tapi persediaan numpuk.
Persaingan dengan warung, termasuk Warung Madura, dan peritel modern perlu diiringi teroboson inkonvensional agar para anggota mau shifting belanja di koperasi.
Ketika saya menyampaikan kegalauan ini ke sesama fasilitator, dia memandang aspek produktivitas yang akan berperan.
Dan kami sepakat bahwa produktivitas akan membawa pada perputaran bisnis yang baik dan akan mengurangi risiko kesulitan likuiditas karena pengelolaan cash yang lebih optimal.
Tapi masih ada satu PR lagi para pendamping yang akan mengawal tercapainya tujuan program KDKMP, yaitu manajemen risiko.
Sekilas risikonya akan bergerak di seputar risiko operasi.
Tapi kegagalan satu koperasi akibat pengelolaan risiko yang tidak tepat, bisa berdampak sistemik bagi niatan baik program ini, yaitu pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.







